Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Lirik + Video : Sayang Musalmah - Lagu melayu, Download MP3

Video Oleh M.Isa

*****
Ahaaaaiiii... sayang Musalmah
Sayang Musalmah memakai sanggul
Ahaaaiii... turun ke sawah
Turun ke sawah menanam padi

Ahaiii... turun ke sawah
turun ke sawah menanam padi
ahaaaiii... hendak dijual
Hendak dijual ke Pekan Lama


Emas sekoyan dapat kupikul
Aku tak sanggup menanggung budi
Emas sekoyan dapat kupikul
Aku tak sanggup menanggung budi

Jangan selalu menanggung pilu
Keraplah kali jadi bencana
Jangan selalu menanggung budi
Keraplah kali jadi bencana

*****

Diwnload MP3 () >

Duel : link1 | 11,193 MB |
Single : link2 | 5,34 MB |

Lagu Melayu: Fatwa Pujangga, lirik, video, tentang pengarangnya.


Lirik :

T'lah kuterima suratmu nan lalu
Penuh sanjungan kata merayu
Syair dan pantun tersusun indah, sayang
Bagaikan madah fatwa pujangga

Kan kusimpan suratmu nan itu
Bak pusaka yang amat bermutu
Walau kita tak lagi bersua, sayang
Cukup sudah cintamu setia

( korus )
Tapi sayang sayang sayang
Seribu kali sayang
Ke manakah risalahku
Nak kualamatkan

Terimalah jawapanku ini
Hanyalah doa restu Ilahi
Moga lah Bang/Dik kau tak putus asa, sayang
Pasti kelak kita kan bersua





Tentang Pengarang

Said Effendi (lahir di Besuki, 25 Agustus 1925 – meninggal di Jakarta, 11 April 1983 pada umur 57 tahun) adalah seniman musik Melayu pada era 1950-an sampai 1970-an. Ia memopulerkan lagu Seroja yang populer hingga ke Malaysia. Selain menulis lagu dan menyanyi, ia pernah pula bermain film berjudul Seroja (sutradara Nawi Ismail), Titian Serambut Dibelah Tujuh (Asrul Sani), dan Pesta Musik Lobana (Misbach Yusa Biran).

Lewat lagu Bahtera Laju, Said Effendi menempatkan diri sebagai pelantun irama Melayu nomor wahid negeri ini. Ia menyingkirkan popularitas P. Ramlee. Said Effendi melantunkan lagu-lagu populer yang diciptakannya sendiri, seperti Bahtera Laju, Timang-timang, dan Fatwa Pujangga, maupun karya orang lain, misalnya Semalam di Malaysia (karya Syaiful Bahri), Di Ambang Sore (Ismail Marzuki), dan Seroja karya Husein Bawafie. Lagu terakhir ini membawanya pada puncak ketenaran[1].

Semua penghargaan yang diterimanya adalah anumerta (post-humous), mulai dari Anugerah Dangdut TPI (1998), Persatuan Wartawan Indonesia, Anugerah Seni dari PT Variapop, Nugraha Bhakti Musik Indonesia (2004), dan dari Parfi dan Persatuan Seniman Malaysia (2006).

Sumber :
http://www.youtube.com/watch?v=v7YEYTmnYdw
http://id.wikipedia.org/wiki/Said_Effendi

PEMETAAN BUDAYA MELAYU PESISIR, TRADISI MATA PENCAHARIAN DAN TEPUNG TAWAR


Riau, baik Riau daratan maupun Riau kepulauan, mempunyai latar belakang sejarah yang cukup panjang. Berbagai tinggalan budaya masa lampau banyak ditemukan di wilayah provinsi itu. Riau Kepulauan pernah berjaya dengan Kerajaan Riau-Lingga dengan pusatnya di Pulau Penyengat. Tinggalan-tinggalan budaya itu ada yang berupa benda bergerak maupun benda tak bergerak seperti bangunan masjid, istana, benteng, dan makam raja-raja Riau-Lingga.

Suku Melayu merupakan etnis yang termasuk ke dalam rumpun ras Austronesia. Suku Melayu dalam pengertian ini, berbeda dengan konsep Bangsa Melayu yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.

Suku Melayu bermukim di sebagian besar Malaysia, pesisir timur Sumatera, sekeliling pesisir Kalimantan, Thailand Selatan, Mindanao, Myanmar Selatan, serta pulau-pulau kecil yang terbentang sepanjang Selat Malaka dan Selat Karimata. Di Indonesia, jumlah Suku Melayu sekitar 3,4% dari seluruh populasi, yang sebagian besar mendiami propinsi Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau,Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat.

Dalam buku Sejarah Melayu disebut bahwa Melayu adalah nama sungai di Sumatera Selatan yang mengalir disekitar bukit Si Guntang dekat Palembang. Si Guntang merupakan tempat pemunculan pertama tiga orang raja yang datang ke alam Melayu. Mereka adalah asal dari keturunan raja-raja Melayu di Palembang (Singapura, Malaka dan Johor), Minangkabau dan Tanjung Pura. Pada waktu itu sebutan Melayu merujuk pada keturunan sekelompok kecil orang Sumatera pilihan. Seiring dengan berjalannya waktu definisi Melayu berdasarkan ras ini mulai ditinggalkan.

Berdasarkan dari uraian diatas maka kami ingin lebih memperluas kembali suku Melayu khususnya yang berada di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.
           

Penjabaran Istilah Melayu


Istilah Melayu berasal dari kata mala (yang berarti mula) dan yu (yang berarti negeri) seperti dinisbahkan kepada kata Ganggayu yang berarti negeri Gangga. Pendapat ini bisa dihubungkan dengan cerita rakyat Melayu yang paling luas dikenal, yaitu cerita SiKelambai atau Sang Kelambai. Cerita ini mengisahkan berbagai negeri, patung, gua, dan ukiran dan sebagainya, yang dihuni atau disentuh oleh Si Kelambai, semuanya akan mendapat keajaiban. Ini memberi petunjuk bahwa negeri yang mula-mula dihuni orang Melayu pada zaman purba itu, telah mempunyai peradaban yang cukup tinggi. 
Kemudian kata melayu atau melayur dalam bahasa Tamil berarti tanah tinggi atau bukit, di samping kata malay yang berarti hujan. Ini bersesuaian dengan negeri-negeri orang Melayu pada awalnya terletak pada perbukitan, seperti tersebut dalam Sejarah Melayu, Bukit Siguntang Mahameru.

Pada mulanya, baik Melayu tua maupun Melayu muda sama-sama memegang kepercayaan nenek moyang yang disebut Animisme (semua benda punya roh) dan Dinamisme (semua benda mempunyai semangat).Kepercayaan ini kemudian semakin kental oleh kehadiran ajaran Hindu-Budha. Sebab antara kedua kepercayaan ini hampir tidak ada beda yang mendasar. Keduanya sama-sama berakar pada alam pikiran leluhur, yang kemudian mereka beri muatan mitos, sehingga bermuatan spiritual.

Kehadiran agama Islam ke dalam kehidupan puak Melayu muda, tidak: hanya sebatas menapis adat dan tradisinya, tetapi juga berakibat terhadap bahasa yang mereka pakai. Sebab tentulab suatu hal yang ganjil, jika suatu masyarakat memeluk agama Islam, sedangkan bahasa yang menjadi pendukung potensi budayanya tidak Islami. Karena itu bahasa dan budaya Melayu muda juga mendapat sentuhan dan pengaruh Islam, sehingga hasilnya budaya Melayu menjadi satu di antara lima budaya Islam di dunia ini. Budaya Melayu itu ada disepuh dengan Islam, ada yang mendapat proses islamisasi dan ada pula yang merupakan hasil kreativitas orang Melayu yang Islami. Akibatnya penampilah orang Melayu akan memperlihatkan agamanya (Islam) adat dan resam yang bercitra Islam dan bahasa Melayu yang mengandung lamtan agama Islam. Tentulah atas kenyataan ini orang Cina yang masuk agama Islam disebut oleh kaum kerabatnya masuk Melayu.

Perantau Banjar (Kalimantan) di Inderagiri, juga telah diterima dengan baik oleh kerajaan itu. Akibatnya keturunan mereka juga menjadi bagian masyarakat dan kerajaan.Keturunan Banjar telah diangkat menjadi mufti kerajaan. Seorang di antara mufti kerajaan Inderagiri yang terkenal ialah Tuan Guru Abdurrahman Siddik bin Muhammad Apip, yang telah menjadii mufti dari tahun 1907-1939. Tuan Guru ini meninggal 10 Maret 1939, lalu dimakamkan di Parit Hidayat dekat kota
kecil Sapat, Kuala Inderagiri.

Sejumlah romusha (pekerja paksa oleh Jepang) asal Jawa, juga telah nikah-kawin dengan puak Melayu Kampar di perhentian Marpuyan Pekanbaru.Keturunan mereka telah kehilangan jejak budaya Jawa, lalu tarnpil dengan budaya puak Melayu Kampar.

Adapun perkataan Melayu itu sendiri mempunyai kepada tiga pengertian, yaitu Melayu dalam pengertian “ras” di antara berbagai ras lainnya. Melayu dalam pengertian sukubangsa yang dikarenakan peristiwa dan perkembangna sejarah, juga dengan adanya perubahan politik menyebabkan terbagi-bagi kepada bentuk negara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan Filipina. Melayu dalam pengertian suku, yaitu bahagian dari suku bangsa Melayu itu sendiri.

Di Indonesia yang dimaksud dengan suku bangsa Melayu adalah yang mempunyai adat istiadat Melayu, yang bermukim terutamanya di sepanjang pantai timur Sumatera, di Kepulauan Riau, dan Kalimantan Barat. Pemusatan suku bangsa Melayu adalah di wilayah Kepulauan Riau. Tetapi jika kita menilik kepada yang lebih besar untuk kawasan Asia Tenggara, maka ianya terpusat di Semenanjung Malaya.*)

Kemudiannya menurut orang Melayu, yang dimaksud orang Melayu bukanlah dilihat daripada tempat asalnya seseorang ataupun dari keturun darahnya saja. Seseorang itu dapat juga disebut Melayu apabila ia beragama Islam, berbahasa Melayu dan mempunyai adat-istiadat Melayu. Orang luar ataupun bangsa lain yang datang lama dan bermukim di daerah ini dipandang sebagai orang Melayu apabila ia beragama Islam, mempergunakan bahasa Melayu dan beradat istiadat Melayu.

            

Pemetaan budaya Melayu pesisir


Melayu Riau atau Riau Raya adalah wilayah dan masyarakat Melayu yang tinggal diProvinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau. Mereka menggunakan Bahasa, adat, dan budaya Melayu sehari-harinya. Riau Raya merupakan saujana peradaban Melayu yang luas, kaya, dan indah.

Persebaran Masyarakat Melayu Riau terbagi atas :
Masyarakat Melayu Riau Kepulauan, yaitu masyarakat Melayu Riau yang bermukim di kawasan Provinsi Kepulauan Riau

Masyarakat Melayu Riau daratan, yaitu masyarakat Melayu Riau yang bermukim di kawasan Provinsi Riau, terdiri atas Melayu Riau Pesisisr dan Melayu Pedalaman.

Adapun pemetaan budaya melayu pesisir adalah sebagai berikut:

a.   Kabupaten Bengkalis
b.   Kabupaten Rokan Hilir
c.   Kota Dumai
d.   Kabupaten Kepulauan Meranti
e.   Kabupaten Siak
f.   Kabupaten Indragiri Hilir
g.  Sementara Kabupaten Indragiri Hulu juga menggunakan bahasa, budaya, dan adat Melayu yang sama dengan Melayu Riau Pesisir meski wilayahnya berada di pedalaman Riau.
h.   Kota Pekanbaru yang dulunya merupakan bahagian dari provinsi Kerajaan Siak berada ditengah-tengah Provinsi Riau, adat, budaya, dan bahasa yang digunakan merupakan adat melayu Siak yang berkembang pada saat itu.

Tradisi mata pencaharian Orang Melayu Pesisir


Meskipun kita melihat ada perbedaan antara Melayu tua dengan Melayu muda, namun kedua keturunan puak Melayu ini masih mempunyai persamaan kultural. Orang Melayu itu akan selalu menampilkan budaya perairan (maritim). Mereka adalah manusia perairan, bukan manusia pegunungan.Mereka menyukai air, laut, dan suka mendiami daerah aliran sungai, tebing pantai dan rimba belantara yang banyak dilalui oleh sungai-sungai. Sebab itu budaya mereka selalu berkaitan dengan air dan laut, seperti sampan, rakit, perahu, jalur, titian, berenang, dan bermacam perkakas penangkap ikan seperti kail, lukah, hingga jala.

Hasil tangkapan ikan diperoleh para nelayan, baik secara kelompok maupun perorangan dijual secara langsung kepada masyarakat.Jenis ikan yang ditangkap terdiri dari ikan ekor kuning, ikan tenggiri, ikan layang, ikan katamba dan ikan kerapu.Jenis ikan tersebut diperoleh dari kegiatan nelayan.

Alat-alat perikanan

  1. Alat-alat perikanan laut terdiri dari : 
  2. Pukat. Sejenis jarring terbuat dari benang kasar atau tali halus dan disamak dengan tannin. 
  3. Jarring. Jarring ini bermacam-macam jenisnya dan bermacam-macamukuran matanya. 
  4. Jala. Jala ini pun bermacam-macam ukurannya, ada jala rambang denganmata jala satu setengah centimeter, jala tamban dengan mata satucentimeter dan jala udang dengan mata setengah centimeter.
  5. Serampang. Alat penikam ikan dan ada berjenis-jenis, yaitu serampangmata satu, serampang mata dua dan serampang mata tiga. Matanya terbuatdari besi atau kuningan dan gagangnya. 
  6. Tempuling. Hampir sama dengan serampang mata satu tapi matatempuling diberi bertali panjang dan gagangnya dapat dilepaskan.    
  7. Kail = pancing. Jenis pancing ini bermacam-macam. Kail biasa bertali pendek, kail susow bertali panjang dan pada pangkal joran (gagang)dipasang alat penggulung benang.
  8. Tangkul. Sejenis jarring empat persegi yang keempat sudutnya diikatkanpada kayu bersilang dan alat penyangga pada gagangnya.
  9. Belat. Terbuat dari bilah bambu yang dijalin dengan rotan dan dipasangditepi pantai, terutama untuk menangkap udang.Pengerih. Satu unit yang terdiri dari : jala, solong, dan penganak. Terbuatdari bambu dan rotan serta diberi pelampung-pelampung dari kayu.

Alat-alat penangkap ikan di tasik di sungai atau di rawa-rawa adalah :

  1. Jarring, ukuran lebih kecil dari jarring di laut terbuat dari benang.
  2. Anggow, jarring pendek yang diikatkan pada perahu
  3. Langgai, jarring yang diberi atau diikatkan dua batang bambu pada keduasisinya sehingga berbentuk tangguk
  4. Tangguk, sama dengan langgai tapi ukurannya lebih kecil
  5. Luka, terbuat dari bambu atau rotan berbentuk keranjang berbagai ukuran.
  6. Pengilar, hampir sama dengan lukah, tetapi bentuknya cylinder terbuatdari bilah bambu yang dijalin dengan rotan.
  7. Tengkalak, sama dengan pengilar tapi ukurannya lebih besar
  8. Belat, terbuat dari bambu yang dijalin dengan rotan
  9. Kail, sama dengan pancing di laut. Tapi kalau digunakan untukmenangkap ikan senggarat dengan tali pendek.
  10. Rawai, ada dua macam yaitu rawai biasa dan rawai Cina. Terbuat dari talipanjang yang digantungi dengan mata pancing- mata pancing yangberjarak kira-kira satu meter dan diberi ranjau dari bambu yang di rautruncing.
  11. Jala, sama dengan jala dilaut
  12. Tajow, sejenis pancing juga  
  13. Tempuling, sama bentuknya dengan tempuling di laut atau serampangmata satu. Hanya ukurannya jauh lebih kecilTuba, akar kayu yang digunakan untuk meracun ikan.
Dalam usaha penangkapan ikan ini, perahu memegang peranan yang sangat penting, karena hampir semua kegiatan penangkapan ikan harusmenggunakan perahu.Perahu ini berjenis-jenis pula. Di laut biasa digunakansampan dengan layar yang disebut: sampan “balang”, sampan “kolek”. Disungaiperahu-perahu kecil yang disebut “jalow” dan “belukang”.
.                

Tradisi Tepung Tawar


Upacara adat tepuk tepung tawar atau berinai lebai adalah permohonan doa yang disampaikan oleh tokoh-tokoh adat, alim ulama, pemuka masyarakat kehadirat Allah SWT, agar kedua mempelai dalam mengarungi bahtera hidup berumah tangga yang baru saja dibina bakal berkepanjangan, rukun dan damai hingga keakhir hayat.

Tepung Tawar merupakan tradisi dalam masyarakat melayu. Tepung tawar dilakukan dengan cara tersendiri yaitu tepung diaduk kemudian ditungkal dan penawar yang terbuat dari daukn kelapa dicelup pada tepung dan dicapkan pada kening , tangan kiri dan kanan, pusat, kaki kiri dan kaki kanandengan membaca selawat nabi atau doa untuk memohon keselamatan. Upacara tepung tawar ini masih membudaya pada masyarakat melayu.

Tepuk tepung tawar ini dilakukan dalam jumlah yang ganjil oleh kaum Bapak, sementara kepada kaum Ibu tidak diperkenankan.

Ada 3 jenis tepung tawar yang sering digunakan yaitu ramuan rinjisan, ramuan penabur dan pedupaan (perasapan). Masing-masing ketiga jenis tepung tawar tersebut memppunyai cirri dan cara tersendiri. Tepung tawar ramuan rinjisan yaitu dengan cara mangkuk putih (dulu tempurung kelapa puan) berisi
air biasa, segenggam beras putih dan sebuah jeruk purut yang telah diiris-iris. Didalam mangkuk tersebut juga diletakkan sebuah ikatan daun-daunan yang terdiri dari 7 macam daun yaitu : daun kelinjuhang / jenjuang ( tumbuhan berdaun panjang lebar berwarna merah), tangkai pohon pepulut / setawar (tumbuh-tunbuhan  berdaun tebal bercabang), daun gandarus (tumbuhan berdau tipis berbentuk lonjong), daun ribu-ribu (tumbuhan melata berdaun kecil bercangah), daun keududuk / senduduk, daun sedingin, dan pohon sembau dengan akarnya. Ketujuh daun tersebut diikat dengan akar atau benang menjadi satu berkas kecil sebagai rinjisan.

Ramuan penabur, ramuan ini dilkukan dengan cara wadah terletak sepiring beras putih, sepiring beras kuning, sepiring bertih dan sepiring tepung beras. Bahan tersebut mempunyai lambang tersendiri yaitu beras putih merupakan lambang kesuburan, beras kuning melambangkan  kemuliaan dan kesungguhan, bertih melmbangkan perkembangan, bunga rampai merupakan keharuman, tepung beras melmbangkan kebersihan hati. Arti keseluruhan bahan-bahan diatas adalah kebahagian.Pedupaan , upacara ini dilakukan dengan cara kemeyan atau setanggi dibakar yang bias diartikan sebagai pemujaan atau doa kepada yang maha kuasa agar agar permintaan dimaksudkan dapat restu hendaknya. Pedupaan ini sangat jarang dilakukan pada upacara tepuh tawar yang  seringdilakukan sekarang. 
      

Kesimpulan


Perkataan Melayu itu mempunyai kepada tiga pengertian, yaitu Melayu dalam pengertian “ras” di antara berbagai ras lainnya. Melayu dalam pengertian sukubangsa yang dikarenakan peristiwa dan perkembangna sejarah, juga dengan adanya perubahan politik menyebabkan terbagi-bagi kepada bentuk negara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan Filipina. Melayu dalam pengertian suku, yaitu bahagian dari suku bangsa Melayu itu sendiri.

Adapun pemetaan budaya melayu pesisir adalah sebagai berikut: Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Rokan Hilir, Kota Dumai, Kabupaten Kepulauan Meranti, Kabupaten Siak, Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu, dan Kota Pekanbaru

Orang Melayu itu akan selalu menampilkan budaya perairan (maritim). Mereka adalah manusia perairan, bukan manusia pegunungan.Mereka menyukai air, laut, dan suka mendiami daerah aliran sungai, tebing pantai dan rimba belantara yang banyak dilalui oleh sungai-sungai. Sebab itu budaya mereka selalu berkaitan dengan air dan laut, seperti sampan, rakit, perahu, jalur, titian, berenang, dan bermacam perkakas penangkap ikan seperti kail, lukah, hingga jala sehingga tradisi mata pencaharian orang Melayu Pesisir pada umumnya adalah sebagai nelayan. Upacara adattepung tawar adalah permohonan doa yang disampaikan oleh tokoh-tokoh adat, alim ulama, pemuka masyarakat kehadirat Allah SWT, agar kedua mempelai dalam mengarungi bahtera hidup berumah tangga yang baru saja dibina bakal berkepanjangan, rukun dan damai hingga keakhir hayat.

Sumber : 


Elmustian Rahman dkk.Riau Tanah Air Kebudayaan Melayu.Muhibah Seni Budaya Melayu Riau :
Melayu Sejati.Departemen Pendidikan Nasional.November 2009

http://id.wikipedia.org/wiki/MelayuRiau. Diakses 12 november 2012


Pacu jalur kuantan singingi, sebuah formula yang dibutuhkan bangsa



Pacu jalur adalah sebuah tradisi yang telah mengakar  di seputaran rantau kuantan atau di kabupaten kuantan singingi pada umumnya. Jalur yang dipacukan di sungai batang kuantan ini adalah sejenis perahu yang berukuran besar yang bisa menampung lebih kurang enampuluh orang, terbuat dari kayu besar yang didapat dari hutan, panjang jalur yang mencapai hingga lima puluh meter lebih dengan lebar pada bagian tengahnya lebih kurang satu meter dan pada bagian ekor ada ukiran dari kayu setinggi orang dewasa. Sepanjang jalur pun dicat dengan motif warna-warni. Jalur benar-benar memiliki nilai estetika yang sangat tinggi.

Selain nilai seni yang tinggi, pacu jalur kuantan singing ini tentu saja mengandung nilai budaya yang sangat luhur dari masyarakat rantau kuantan yang mencerminkan etika musyawarah dan gotong royong yang mengakar pada masyarakat rantau kuantan dan kabupaten kuantan singing pada umumnya. 

Melihat dari historical background atau latar belakangsejarahnya, pacu jalur ini sudah dimulai sejak lebih kurang satu abad yang lalu. Sebelumnya jalur adalah sebagai alat transportasi air oleh masyarakat rantau kuantan. Namun jalur tetap saja jalur, baik dipacukan atau tidak.

Proses pembuatan jalur bukanlah perkara mudah. Ini yang saya ingin pelajari sejak lama. Dan saya juga ingin masyarakat rantau kuantan bahkan Indonesia pada umumnya menyadari akan hal ini.

Sebelum masyarakat mulai membuat jalur, maka tentu saja dimulai dengan musyawarah terlebih dahulu. Tidak pernah terjadi voting dalam pencarian kayu untuk pembuatan jalur ke hutan, waktu penebangan kayu, “maelo jaluar” atau membawa kayu yang sudah mulai berbentu jalur dari hutan ke kampong atau banjar, proses pembentukan jalur dari kayu bulat menjadi jalur, “mandiang jaluar” atau memanaskan jalur yang sudah jadi diatas api unggun, pengecatan atau pe-motifan jalur, jalur “turun mandi” atau penurunan jalur dari kampong ke sungai batang kuantan, latihan pacu, penentuan anak pacuan yang akan menjadi atlit pemacu jalur tersebut, sampai pacu jalur yang terkenal itu diselenggarakan tidak pernah ditentukan jadwalnya dengan voting, tapi dengan musyawarah untuk
mencapai mufakat berdasarkan hikmat kebijaksanaan atau keilmuan yang memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang oleh penduduk sekitar disebut “mampokat”

Ini menggambarkan bahwa masyarakat rantau kuantan adalah masyarakat yang memiliki semangat musyawarah yang tinggi. Tentu saja musyawarah ini juga dilakukan dalam pembangunan strategi dan pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan dan tujuan khalayak seperti “mampokat barolek” atau musyawarah untuk menentukan segala macam hal sebelum dilansungkan sebuah pernikahan), mampokat banjahq/mampokat banjar atau musyawarah setingkat desa, dalam beradat-istiadat hingga ke semua aspek kehidupan masyarakat rantau kuantan selalu dibangun dengan jiwa musyawarah karena musyawarah dalam “pacu jalur” adalah cerminan moral dan etika masyarakat rantau kuantan.

Inilah yang harus kita pertahankan. Karena musyawarah untuk mencapai mufakat dengan   pengambilan keputusan berdasarkan hikmat kebijaksanaan atau berdasarkan ilmu jauh lebih baik dari pada proses pengambilan keputusan dengan suara terbanyak yang berdasar atas keberuntungan belaka atau lebih tepatnya “berjudi nasib” seperti demokrasi yang kita kenal sekarang ini.

Pacu jalur ini juga membuktikan kepada kita bahwa masyarakat rantau kuantan dahulunya jauh lebih cerdas daripada orang barat atau Eropa yang hanya bisa membangun system seperti Demokrasi dengan suara terbanyak yang berdasar atas keberuntungan belaka, sedangkan masyarakat rantau kuantan mampu membangun sebuah system musyawarah dengan kebulatan suara atau mufakat bersama yang berdasar atas keilmuan atau hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

Disamping nilai musyawarah yang merupakan mode required by nation (modern) of Indonesia atau formula yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia ini, pacu jalur juga mengandung nilai gotong royong yang sangat kental. 

Kegotong-royongan dapat mudah dilihat sepintas laluoleh siapa saja yang menyaksikan pacu jalur. Dalam berpacu setiap anak pacu harus sama-sama mendayung didalam jalur. Kita bisa lihat indahnya keserentakan yang dilakukan oleh anak pacuan ketika pendayung naik dan turun, semua serentak tanpa ada yang timpang atau berbeda. Sebuah gambaran kekompakan, kerjasama dan kegotong royongan yang sangat luar biasa.

Namun bila kita melihat sejarah terbuatnya suatu jalur, kita akan semakin tau seperti apa kegotong-royongan yang dibangun oleh masyarakat rantau kuantan, seperti pada saat mencari kayu jalur, maelo jaluar, mandiang jaluar, turun mandi jaluar hingga pada saat pacu jalur semuanya dibangun dengan azas kegotong-royongan, bukan individualisme atau perseorangan. Bila kegotong-royongan tidak ada, maka alamat jalur tak kan tercipta.

Dengan pacu jalur akan meningkatkan silaturrahmi diantara masyarakat rantau kuantan, baik anak pacuan yang saling berlomba, maupun masyarakat yang menonton yang saling bertemu untuk mendukung jagoannya agar menang. Namun tetap saja yang menentukan kemenangan adalah jalur yang berpacu, bukan dengan teriakan suara pendukung yang terbanyak seperti pemilu yang kita kenal sekarang ini.

Pacu jalur juga melahirkan semangat sportifitas bagi masyarakat rantau kuantan, terutama bagi anak pacuan karena ketika ternyata jalur yang mereka pacukan kalah, mereka bisa menerima dengan lapang dada dan dengan alas an yang saya piker sangat tepat yaitu kemenangan lawan membuktikan bahwa mereka lebih laju atau lebih cepat dalam berpacu dan lebih pantas untuk menang. Kalaupun terjadi pertikaian setelah berpacu, biasanya dipicu oleh kesalahan segelintir oknum bukan system dengan kemenangan berada ditangan yang pantas.

Pacu jalur yang diadakan di sungai batang kuantan ini tentu saja mengingatkan kita akan lingkungan yang mendukung pacu jalur itu sendiri seperti sungai kuantan yang merupakan lingkungan pokok dalam pacu jalur. Maka pacu jalur mengingatkan kita agar selalu menjaga kebersihan sungai, dalam hal ini sungai kuantan. Selain itu lingkungan hutan yang menjadi sumber dari semua jalur juga harus dijaga dari illegal-logging dan pengrusakan hutan lainnya karena jika kayu-kayu besar dihutan habis dibabat oleh keserakahan seperti illegal-logging maka membuat jalur mau pakai apa? Inilah hal yang tersirat dari pacu jalur kuantan singing ini.

Dengan begitu jelaslah oleh kita bahwa pacu jalur adalah nilai budaya yang menciptakan hukum atau nilai aturan dasar seperti menetapkan musyawarah sebagai metoda pengambilan keputusan atau nilai politik, senantiasa bergotong royong dan bersilaturrahmi dan sportifitas yang tinggi sebagai nilai social, pembuatan jalur yang sangat bermanfaat bagi masyarakat atau nilai ekonomi sosialis ala Indonesia-dalam hal ini masyarakat rantau kuantan, dan selalu menjaga lingkungan baik sungai-hutan-atau lainnya yang disebut juga nilai lingkungan. Enam wahana nilai yang sangat dibutuhkan dalam menciptakan sebuah pormula yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia (modern of Indonesia) dan masyarakat rantau kuantan yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia itu sendiri, maupun masyarakat dunia internasional.

Pelestarian adat. Peran remaja yang terlupakan


Regenerasi yang gagal. Itulah kendala yang akan kita hadapi bila memang ingin melestarikan adat dan budaya kuantan singingi ini.

Bahkan dengan hadirnya mata diklat "seni budaya" sebagai salah satu muatan lokal dalam kurikulum pendidikan di sekolah sekolah dinilai kurang berhasil. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya remaja kita yang bingung bila ditanya tentang adat dan budaya, tak terkecuali saya. Bahkan ada diantara remaja kita yang tidak tau dan tidak mau tau mereka terlahir dalam suku apa, siapa penghulu adat nya, ninik mamak nya, kemenakan nya, dunsanak-dunsanak nya, bako nya, juga yang akan "dikatoan" bila menikah nanti. Mereka juga tidak mengerti dengan pitata dan pantun-pantun yang sering diucapkan pada acara-acara adat.

Dimata remaja kita, adat dan budaya ini tak lebih dari sebuah lelucon, buah bibir orang tua-tua dulu dan di anggap hal yang tak penting, kuno dan ketinggalan jaman. "Bukankah lebih asik mengetahui dan mempelajari sesuatu yang lebih moderen dengan gaya kebarat-baratan yang lebih keren dan gaul,,?" begitulah jawaban remaja tentang masalah adat.

Mungkin benar sekarang masih banyak yang mengerti adat di kuansing ini, tapi bukan dari kalangan remaja yang harusnya menjadi calon-calon pemimpin masa depan dan orang yang nantinya bertanggung jawab atas keberlansungan adat dan budaya di kuansing ini. Sebagai putra kuansing yang berdomisili di negrinya sendiri, saya sangat prihatin dengan kondisi ini. Lantas apa jadinya bila generasi muda kita tidak berpengetahuan tentang adat istiadatnya sendiri,? Seperti apa negeri kita ini 50 tahun kedepan,?

Salah satu contoh nya saja; RARAK atau CALEMPONG, alat musik tradisional kita yang identik dengan pacu jalur dan acara-acara adat lain nya ini siapa yang bisa memainkannya,? Remajakah,? Kaula mudakah,? Atau,,,- generasi muda "50 tahun silam",? Lalu siapa yang akan memainkan alat musik ini 20 tahun kedepan,?

Saya rasa percuma saja kita bicara masalah pelestarian adat bila tidak melibatkan remaja dan secara lansung.

Mungkin akan lebih baik bila diadakan penerangan tentang adat istiadat ini kepada remaja, atau kalau perlu mendirikan suatu organisasi remaja peduli adat kuansing. Hal yang tak mampu saya lakukan, tapi saya yakin mampu dilakukan oleh abang-abang sekalian...

Sungai kuantan, Penambang emas liar dan kesedihannya.

Hai kuantanese,,! Pernahkah kuantanese berpikir tentang sungai kuantan yang melintasi kabupaten kuantan-singingi kita ini keadaan nya ratusan tahun lalu seperti apa,? Mungkin tak ada yang berpikir hingga sejauh itu, bahkan ada yang tak mau ambil pusing dengan hal ini sama sekali bukan,? Anehnya pertanyaan seperti itu bergelantungan di pikiran saya hingga membuat saya tak bisa tidur pada suatu malam.

Dalam pikiran saya, sungai kuantan yang kita banggakan ini ratusan atau mungkin masih puluhan tahun silam keadaannya jauh lebih baik daripada saat ini. Air yang sekarang kuning keruh dan kotor, bisa jadi pada masa nya dulu adalah air yang jernih, bersih, segar, yang merupakan penyejuk dan pelepas dahaga yang tak ternilai harganya bagi ribuan bahkan jutaan makhluk yang memanfaatkan dan membutuhkan air nya. Orang orang yang tinggal di pinggiran sungai yang menggantungkan mata pencaharian dan kehidupannya di sungai ini hidup sejahtera berkat hasil dari sungai nan elok dan indah itu melimpah ruah. Yah,,,, meskipun ini hanya imajinasi saya semata, tapi setidaknya bisa menjadi tolak ukur dalam notes ini.

Kuantanese,, jangan mengaku orang kuantan bila tidak mengetahui seburuk apa keadaan sungai kuantan yang menjadi icon dan identitas diri kita ini sekarang. Sungai kuantan yang kita banggakan ini tak lebih dari sebuah aliran air yang menyedihkan, kotor, keruh, dan menjijikan, bahkan, jangankan untuk di konsumsi, untuk MCK saja sudah bisa dikatakan tidak layak lagi. Mandi sambil berenang renang kehulu dan berakit rakit ketepian yang dulu menyenangkan sekarang menjadi hal yang menakutkan karna dapat membuat badan gatal-gatal dan alergi. Ditambah lagi dengan "datuak di aiar" yang mulai sering menampakan diri ke permukaan lantaran merasa keberadaanya terganggu menimbulkan suasana yang kian mencekam. Nah bagaimana perasaan kuantanese sekarang? Masih bangga dengan sungai kuantan yang telah tercemar ini,?

Salah satu alasanya: PENAMBANGAN EMAS DAN PASIR LIAR yang bawel dan tak mampu dihentikan pemerintah. Seolah olah pemerintah hanya memandang sebelah mata akan pencurian aset negara terbesar yang tersimpan di dasar sungai kuantan yang katanya dilindungi undang undang ini. Tak terlihat sedikitpun hasil kerja aparat penegak hukum di sana. Buktinya, perahu atau kapal dengan mesin penyedot yang menggunakan sentrifugal berdiameter diatas 12 inchi masih dapat kita jumpai dengan mudah di sepanjang sungai kuantan, terutama di kecamatan hulu kuantan dan kuantan mudik. Apakah dengan ini kinerja pemerintah dan aparat penegak hukum tidak pantas untuk di pertanyakan,? Ataukah ada oknum oknum tertentu yang bermain di belakang panggung hingga "pesta kembang api" ini tak tersentuh hukum,?

Meskipun begitu kita tidak dapat menyalahkan pemerintah dan aparat sepenuhnya. Bagaimana pun juga kuantan adalah milik kuantanese (orang kuantan) sepenuhnya. Yang seharusnya menjaga, memelihara, dan bertanggung jawab sepenuhnya adalah kita orang kuantan, bukanya menunggu hingga datang orang lain untuk memperbaiki "serambi rumah kita" ini.

Lihatlah kuantanese,,! Apa keadaan air yang semakin memprihatinkan dan erosi serta longsor yang mengikis tepian mandi kita ini tidak mengganggu,? Bunyi mesin mesin "pencuri" yang kian hari semakin memekakkan gendang telinga ini belum membuat kita merasa risih,? Akankah kita hanya berdiam diri saja menyaksikan orang orang yang tak bertanggung jawab ini menghancurkan "identitas diri" yang kita gadang-gadangkan,? Lantas apa yang akan kita lakukan,? Pantaskah kabupaten ini bernama "KUANTAN singingi" bila pemerintahnya tak mampu mengobati penyakit yang menggerogoti kuantan dan singingi ini,?

Renungkanlah wahai kuantanese sekalian, cobalah luangkan waktu sejenak untuk memikirkan nasib sungai kuantan ini kedepanya seperti apa. Apakah kita tidak malu mempertontonkan kekotoran dan kerusakan sungai kuantan pada iven pacu-jalur, parahu-baganduang dan acara acara lain yang diadakan di sungai kuantan yang disaksikan jutaan pasang mata dari dalam dan luar daerah?? Ingatlah bahwa, KEBUDAYAAN INI KERUH SEIRING KERUHNYA AIR SUNGAI KUANTAN. Dan KUANTAN ADALAH INTI KEBUDAYAAN KITA,.

Adakah yang mampu menghargai notes ini sebagai bukti kecintaanya akan sungai kuantan.?? Semoga saja begitu.

Top