Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

VIDEO : Konflik Mahasiswa UR (jangan diulang lagi!!).


Menjelang Pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas Riau 2014 tinggal beberapa hari lagi (11 maret 2014), kita kembali diingatkan dengan konflik mahasiswa UR 2012 silam, mengingat ini adalah PEMIRA pertama setelah tragedi itu, besar kemungkinan dapat terulang kembali, terlebih beberapa pasang calon yang adalah orang-orang dibalik tragedi menyedihkan, menjijikkan dan memalukan ini.

Sekedar mengingatkan kembali kepada kawan-kawan bahwa UR masih sangat rentan konflik seperti ini, untuk itu saya menghimbau kepada seluruh mahasiswa UR untuk sama-sama mencegah agar tidak terulang kembali, terutama kepada Panitia Penyelenggara Pemilihan Raya, dan pendukung semua kandidat. Cukup kejadian yang sudah-sudah mempermalukan Universitas kita sebagai pusat pendidikan di Riau, mempermalukan Marwah Melayu sebagai pokok kebudayaan yang santun, dan terkhusus mempermalukan ISLAM sebagai agama yang membawa Rahmat bagi sekalian alam..


Sumber Video : http://youtu.be/uGRfB65k3hA

Akulah sang Pembunuh itu..!



Tak lagi ku ingat mengapa aku harus membunuhnya, aku ingat aku merasa pernah melakukannya sebelum ini, sangat jelas seperti d'javu,

Aku merasa takut, aku pesan kan kawan aku agar salah seorang tokoh yang punya karier cemerlang di kancah perpolitikan riau untuk menghapus nomor Handphone ku, lalu aku lari mencari jalan menuju hutan belantara, sedang ketika itu aku tak tahu berada dimana.

Di pelarian itu aku sampai di tepi sawah yang cukup luas, ku jumpai sahabat karibku di kampung, ku dengar nasihat dari orang tuanya, lalu aku kembali berlari, lari, lari dan terus berlari, aku tau seseorang sedang mengejarku, jadi aku lari sebelum dia menemukan jejak ku.

Aku lari hingga ke pedesaan, kala itu aku berikan Handphone ku kepada sebuah keluarga yang telah terbiasa membantu para buronan pemerkosa, perampok, pengedar narkoba, dan pembunuh sepertiku, aku beristirahat di halaman rumah tersebut, entah mengapa disana ada kawan kerja-ku yang menemani, (kenyataannya dia bukanlah orang yang dapat aku percaya),

Penatku belum berkurang ketika aku lihat seorang polisi berpakaian preman mendekat ke persembunyianku, sepertinya ia melacak keberadaan ku dengan GPS dari jejak sinyal handphone yang aku bawa,

Aku pesan kepada kawanku supaya keluarga yang ku berikan handphone itu mengatakan bahwa handphone itu telah beberapa jam ini berada ditangan nya, sementara aku kembali berlari di samping-samping rumah penduduk menuju belakang rumah mereka, yah menuju hutan belantara.

Sampai aku di sebuah kebun di pinggar hutan, kujumpai seorang ibu2 yang tak kukenal sama sekali, aku cuba sapa dia, kutanya kenapa ia bertahan di tempat seperti itu, sedang ia orang minang, ibu2 yang telah renta itu menjawab bahwa ia punya keinginan untuk berjalan-jalan seperti ketika muda dulu, namun karena usia tak lagi mengizinkanya.

Aku lanjutkan pelarianku, aku teramat lelah, ketika ku tau lariku tak kencang lagi, kusaksikan ternyata aku berada ditengah kebun durian yang cukup luas, pohon durian itu cukup banyak dan pohonnya sangat besar-besar dengan bentuk yang sebagian kurang wajar,

Ku ingat terakhir kali aku memandang ke belakang, aku senang tak tampak sosok yang dari tadi mengejarku, dan dalam ingatanku setelah itu aku terjatuh tak sadarkan diri.

Kemudian aku tersentak, terbangun, dan terduduk, kakiku masih letih seperti habis berlari jauh, jantungku berdegap kencang, napasku ngos-ngosan, namun aku berada di suatu kamar kecil yang sangat aku kenali, yah selain itu aku juga senang melihat teman satu kos aku Makruf sedang asik bermain ModoMurble, kulihat jam setengah delapan jum'at pagi tanggal 21 januari 2014. dan yang lebih senang lagi, ternyata semua cuma mimpi..

ini #mimpiku, mana mimpimu??

Informasi Seputar Kota Pekanbaru



Kota Pekanbaru adalah ibu kota dan kota terbesar di provinsi Riau, Indonesia. Kota ini merupakan kota perdagangan dan jasa, termasuk sebagai kota dengan tingkat pertumbuhan, migrasi dan urbanisasi yang tinggi.

Pekanbaru mempunyai satu bandar udara internasional, yaitu Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II,dan terminal bus terminal antar kota dan antar provinsi Bandar Raya Payung Sekaki, serta dua pelabuhan di Sungai Siak, yaitu Pelita Pantai dan Sungai Duku.

Saat ini Kota Pekanbaru sedang berkembang pesat menjadi kota dagang yang multi-etnik, keberagaman ini telah menjadi modal sosial dalam mencapai kepentingan bersama untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakatnya.

Ibukota Propinsi Riau ini memiliki luas wilayah sekitar 633,01 km persegi dengan jumlah penduduk 903.902 (2010), kepadatan penduduknya 1.134 jiwa/km persegi. Kota ini adalah salah satu kota terbersih dan terkaya di Indonesia.

Kota pekanbaru sebagai Kota Terbesar ke 8 (delapan) di Indonesia

 

Berikut urutannya :
  1. Jakarta
  2. Surabaya
  3. Medan
  4. Bandung
  5. Semarang
  6. Makasar
  7. Palembang
  8. Pekanbaru

  9. Batam
  10. Banjarmasin
Dengan demikian Kota pekanbaru juga menjadi Kota terbesar ketiga (3) di Sumatra.

sumber :

Sejak tahun 2010, Pekanbaru telah menjadi kota ketiga berpenduduk terbanyak di Pulau Sumatera,


1930 1954 1961 1971 1990 2000 2005 2006 2007 2008 2010

Green Arrow Up.svg 2.990 Green Arrow Up.svg 28.314 Green Arrow Up.svg 70.821 Green Arrow Up.svg 145.030 Green Arrow Up.svg 398.694 Green Arrow Up.svg 587.842 Green Arrow Up.svg 720.197 Green Arrow Up.svg 754.467 Green Arrow Up.svg 779.899 Green Arrow Up.svg 799.213 Green Arrow Up.svg 897.767



pada tahun 2010 berdasarkan survei persepsi kota-kota di seluruh Indonesia oleh Transparency International Indonesia (TII), kota ini termasuk kota terkorup di Indonesia bersama dengan Kota Cirebon. Hal ini dilihat dari Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK-Indonesia) 2010 yang merupakan pengukuran tingkat korupsi pemerintah daerah di Indonesia. Pekanbaru mendapat nilai IPK sebesar 3.61, dengan rentang indeks 0 sampai 10.


Meskipun sering banjir Kota pekanbaru tetap meraih Adipura 2013 seperti dilansir http://alamendah.org/2013/06/10/daftar-kota-peraih-adipura-2013/

Pekanbaru juga memperoleh Peringkat Dua puluh sembilan (29) Kabupaten/Kota Terkaya 2012 versi http://wartaekonomi.co.id/berita4775/ini-peringkat-kabupatenkota-terkaya-2012.html

Stadion Utama Riau ikut tambah rekor kota pekanbaru dengan menjadi stadion terbesar ke lima (5) di indonesia menurut http://carapedia.com/stadion_terbesar_indonesia_info2813.html


Filsafat Tuhan, Hukum Alam dan Kebenaran Agama



Pada dasarnya manusia hidup dengan dua pilihan (ego dan super-ego/ angel dan devil). skeptis adalah sifat dasar manusia, untuk itu kebenaran adalah kebutuhan dasar manusia. manusia membutuhkan kebenaran untuk menentukan sikapnya terhadap lingkungan (termasuk makanan). Manusia mengenal kebenaran sejak manusia mulai berpikir. Setidaknya ada dua jenis kebenaran yang diketahui manusia, ialah kebenaran Subjektif dan objektif, (Relatif dan universal).

Kebutuhan dasar manusia akan kebenaran membuat manusia menggunakan otaknya untuk berfikir, kemudian manusia menemukan kebenaran-kebenaran yang tidak terbantahkan sepanjang sejarah kehidupannya. disinilah manusia menyadari bahwa ada kekuatan besar yang tidak dapat ditunjukkan substansinya yang berkuasa atas semua hukum kebenaran yang disaksikan manusia di alam semesta ini.

Gula (glukosa) rasanya manis, 2 atom hidrogen tambah 1 atom oksigen menjadi air (H2O), tiap tiap aksi menghasilkan reaksi yang sama, adanya akibat pasti ada penyebabnya (kausalitas), dll. semua itu adalah hukum kebenaran yang ditemukan manusia didunia, pertanyaannya adalah dari mana datangnya? (bukan lagi siapa yang menciptakan). Sebuah kebenaran mestilah datang dari suatu yang Absolut, karena tidak mungkin kebenaran datang dari sesuatu yang salah. kalaupun kebenaran (ex: Hukum Alam) datang karena kebetulan, maka sebuah hukum alam tidak akan pernah bersifat pasti tetap dan dapat diterima (Universal).

karena kebutuhan dasar manusia adalah kebenaran, maka manusia sangat ingin membuktikan adanya tuhan, manusiapun mencari tuhan, banyak yang putus asa, banyak pula yang mengaku telah menemukannya. maka muncullah berbagai macam cara menyembah tuhan,yang kemudian disebut Agama. pada dasarnya tuhan adalah kebenaran dan agama adalah berserah diri kepada kebenaran, maka dari sekian banyak konsep ketuhanan, tidak mungkin semuanya benar. pendekatanya semua salah atau satu saja yang benar.

Praktek perdukunan dalam pacu jalur


Pacu jalur, Event tahunan yang diadakan di kabupaten kuantan singingi telah berlansung sudah. tradisi besar turun temurun sejak ratusan tahun lalu itu kembali hangat dalam perbincangan, seperti yang sudah sudah pada masyarakat lokal, acara yang empathari itu tak akan ada habisnya dibicarakan hingga empat bulan kemudian. begitulah euforia yang diciptakan tradisi yang telah karatan tersebut.

Tradisi merupakan kebiasaan-kebiasaan yang dinilai baik dan diteruskan dari generasi kegenerasi. Tradisi membentuk budaya dari dialektika terus menerus hinggamencapai objektifitas. Artinya tradisi yang baik menghasilkan budaya yang baik pula. begitu juga sebaliknya.

Tradisi sebagai input mestilah mengalami dialektika, mengalami revisi, reformasi, revitalisasi, rekonstruksi, bahkan revolusi berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas budaya yang dihasilkan sesuai prinsip dasar sistem : input-proses-output.

Pacu jalur sebagai tradisi yang lahir ditengah-tengah masyarakat umum mestilah diproses dalam suatu sistem yang baik agar benar-benar bermanfaat dan sekalipun jangan menimbulkan kemudhoratan. Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi sebagai penyelenggara dinilai sebagai pihak yang bertanggung jawab baik atas manfaat maupun mudhorat yang ditimbulkannya.

Sedikit catatan saya tentang Pacu jalur ini mungkin dapat dinilai sebegai sebuah subjektifitas yang telah mengalami dialektika karena Sejak saya bisa mengingat, tak sekali-pun saya tidak mengikuti event ini dari tahun ketahun, baik sebagai penonton maupun pemacu, .

Hal yang paling "Biadab" dari pacu jalur adalah praktek perpawangan alias perdukunan. Pada awal dipacukannya jalur di Batang Kuantan ini pada zaman. Kolonial belanda memang selalu diwarnai dengan praktek perdukunan, karena maklumpada saat itu pendidikan masyarakat belum seperti sekarang pastinya.

Pawang-pawangan dimaksudkan dalam rangka "me-lobby" makhluk halus yang kita sebut saja Jin dkk (dan kawan-kawan) agar dapat membantu memenangkan jalur yang dipawangkan. Kemudian pada jalur yang kalah, sang dukun terpaksa berkilah bahwa Mambang atau jembalang (kawan-kawannya jin) kurang kuat dibanding milik lawan. Masyarakat dan anak pacuan percaya saja, kan pendidikan belum canggih!. agar mendapatkan mambang (makhluk halus penunggu kayu, karena Jalur terbuat dari kayu) yang berstandar ISO 9001, pengurus jalur tak segan-segan me-Rental Dukun pacu kuda solok atau dukun pacu sapi madura yang bahkan tak tahu-menahu tentang Jalur.

Jalur Pendekar Hulu Bukit Tabandang (nama jalur asal desa Lubuk Ambacang) misalnya. berhasil meraih kemenangan tiga tahun berturut-turut bahkan hampir di seluruh rayon yang diikuti, termasuk gelanggang utama di tepian Narosa Telukkuantan selalu dikait-kaitkan dengan kesaktian teman-temannya jin yang mereka percaya menunggu jalur tersebut. menurut mereka nama mambang yang satu ini adalah "Saroyi". hal serupa juga terjadi di jalur-jalur lainnya, tentu dengan nama mambang yang berbeda. bahkan jalur Kalo Jengking 3 Jembalang (asal Desa Sungai Manau), dari namanya saja kita sudah tau bahwa masyarakat percaya bahwa jalur ini didiami 3 mambang/jembalang sekaligus. mungkin jembalang-jembalang ini saling berebut tempat tidur saat malam menjelang, belum lagi kalau ada tetangga yang datang menjalang! tapi kemana perginya mambang dan jembalang ini saat kejayaan jalur telah hilang ditelan sang waktu?

Sekedar anekdot barangkali perihal ini dapat menjadi bahan penelitian buat skripsi mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. kita anggap saja judul skripsinya "Komunikasi lintas Dimensi/alam gaib di kabupaten kuantan singingi. mantap kan?

Praktek perdukunan, pada zaman serba sain dan tekhnologi seperti sekarang ini jelas sangat kuno. maksud saya masyarakat yang masih percaya sama yang gitu-gituan pasti terlihat bahwa masyarakat tersebut benar-benar Tidak berpendidikan atau Belum Terjamah Pembangunan alias blo'on. benarkah masyarakat kuantan singingi seperti itu? ah tidak juga, tapi terserah pembaca saja mau memberi penilaian seperti apa. 
Masyarakat Kuantan singingi pasti protes dibilang SDA (seperti di atas), saya juga dong, kan saya mbagian dari masyarakat kuantan singingi juga. tapi kenyataanya praktek perpawangan ini masih dianggap hal biasa di kalangan masyarakat toh. meski menurut saya pemerintah yang paling lengah. sebut saja propaganda tanpa perhitungan yang dilakukan pemerintah dalam mempromosikan pacu jalur. benar-benar menyesatkan..! (menurut saya)

Tiga puluh menit saya terpaku menyaksikan kalender yang dipajang didinding rumah saya hanya untuk melihat sebuah foto yang sangat menawan bagi saya. sepertinya foto tersebut memenuhi karakteristik estetika fotografi. foto tersebut tentu sangat sulit dideskripsikan dengan kata-kata, apalagi lewat tulisan, tapi yang jelas disana terlihat seorang pawang sedang memantrai ekor jalur dalam keremangan cahaya lilin dikala matahari baru saja terbenam diujung barat, sunset nya masih tergambar dengan sangat jelas. dibawah foto tersebut terdapat tulisan "pertahankan opini wajar tanpa pengecualian" lalu dibagian atasnya tertulis "PEMERINTAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI"

Ketika sedang "Manakiak" dikebun karet kami, saya dan abang saya berhenti sejenak khusus untuk mendengarkan proses pencabutan undian pacu jalur lewat radio, terdengar penyiar berkata " Jalur kal***{sensor}(panitia memanggil perwakilan jalur),- yak terlihat perwakilan jalur maju kedepan kemudian berputar-putar tujuh kali sembari mencabut undian dengan tangan kiri sesuai INTRUKSI PAWANG JALUR" (pembaca mungkin lebih tau intensitas kalimat serupa)

Diatas baru dua contoh Propaganda seperti yang saya ulas sebelumnya, masih ada contoh lain yang tak mungkin saya sampaikan dalam tulisan singkat ini, tampak pemerintah memang sengaja mem-propagandakan pawang jalur. Motifnya? entahlah, mungkin proyeknya dinas Pariwisata agar dapat menarik banyak wisatawan untuk menyaksikan kebodohan masyarakat kuantan singingi yang masih percaya akan perdukunan dkk. kebijakan politik untuk perekonomian dalam meningkatkan PAD memang terkadang mengesampingkan/terlupakan akan pembangunan karakter dan pendidikan masyarakat.
Saya tidak mengatakan bahwa saya tidak percaya pada praktek perpawangan. lagipula agama saya mengakui eksistensi hal-hal seperti ini walau dengan nada sangat-sangat negatif. tapi mari kita rehat sejenak. kita layangkan pikiran kita ke sebuah daratan luas di sebelah timur sana. sebuah daratan yang masyarakatnya mampu menjadi standar bagi dunia. sebuah masyarakat yang memiliki negara adikuasa dan adidaya bernama USA, lau kita bayangkan kita dapat melihat mereka dari atas bagaikan melihat dari "Google Map", terlihatlah bangsa amerika yang tak terhitung jumlahnya, mumpung kita lagi melihat dari atas, maka bagian kepala tentu terlihat paling jelas, lalu pertanyaan saya, berapa banyak dari kepala yang anda lihat yang isinya "percaya kepada Tahayul..!"? Mungkin pesan yang hendak saya sampaikan dalam alinea ini begini : Meninggalkan tradisi per-pawangan = belajar hidup mandiri tanpa bergantung dibawah ketiak jin dkk dalam mencapai kesejahteraan hidup masyarakat. kira-kira seperti itu.
Ketika sampai di Alinea ini, saya teringat sebuah kalimat yang saya kutip dari Majalah "SM edisi 23-2011 (kalau saya tidak salah)" : " Tradisi dengan sendirinya bukanlah untuk ditradisikan, melainkan untuk membangun peradaban yang lebih baik melalui dialektika zaman", kutipan yang saya edit seperlunya. dengan demikian bila sudah terang bahwa pawang-pawangan dalam tradisi Pacu Jalur tidak membangun peradaban samasekali maka sudah sepantasnya dibuang dan diganti dengan sesuatu yang lebih berarti dalam pembangunan karakter dan pendidikan bagi masyarakat, Mentradisikan Pawang tidak lebih dari sekedar mengawetkan sampah. Mari kita ganti Propaganda kita sekalian jaga.
Apa solusi yang saya berikan? Sebuah pertanyaan blunder yang saya sangat malas menjawab nya, mengapa demikian? karena menurut saya masih ada pihak yang lebih pantas menjawab pertanyaan bodoh ini selain saya. namun bila pembaca masih ingin menanyakannya, maka ada baiknya tanyakan terlebih dahulu pada diri masing-masing...

SKEPTIS WITH BASTRA


Bastra  yang ditargetkan akan dilaksanakan pada tanggal 13 maret 2013 ini terlihat semakin terjepit situasi, setelah sekian kali diundur dengan berbagai alasan kini kembali diguncang oleh pelaksanaan KONFERCAB, pasalnya agenda tahunan cabang itu dibuka pada tanggal 8 maret 2013, tentu sangat besar kemungkinan agenda ini tidak akan selesai hingga tanggal 13 maret 2013 yang telah kami agendakan untuk melakukan BasTra.

Aku berkomitmen untuk tidak ikut pusing dulu dengan konfercab agar agenda BasTra-kami dapat terlaksana dengan baik dan sesuai jadwal mengingat calon peserta yang sudah mencukupi kuota pelaksanaan.

Meskipun ketua BPL telah berjanji untuk menjamin keberlangsungan agenda yang kami rencanakan, aku tentu masih skeptis dengan hal tersebut, pasalnya 15 Maret 2013 PB juga mengagendakan KONGRES XXVIII. yang saya takutkan bila anggota BPL banyak yang ingin ikut "menyaksikan"nya sehingga timbul pertanyaan, Siapa yang akan mengelola training ini?

KONFERCAB yang menjadi agenda "utama" di lingkungan cabang tentu sedikit BANYAK nya akan berpengaruh terhadap pelaksanaan BasTra yang kami persiapkan, setidaknya satu pertanyaan yang jawabannya masih aku ragukan ialah tentang Kepengurusan Cabang yang belum akan terbentuk dalam waktu DEKAT (mungkin ada yang bisa menjawab).

Mungkin terlalu egois kiranya bila tetap memaksakan agenda ini, tapi yang aku ingat pasal 8 AD himpunan ini berfungsi sebagai organisasi Kader, tentu Fungsi adalah prioritas utama. namun begitu adakah yang akan mengoperasionalkan Himpunan agar berfungsi? yah, jawabnya adalah mereka yang sedang menyibukkan diri beradu STRATAK dalam forum konfercab. ketua mana? BPL siap? cabang gimana? apa lagi yang kurang dari Bastra ini? sepertinya tak ada yang mempedulikan agenda kecil yang sejatinya memegang fungsi dari himpunan ini. adakah cuma aku yang sedang memikirkannya? atau apa aku juga harus ikut-ikutan melupakan agenda ini sejenak seperti yang mereka lakukan? mudah-mudahan tidak dilupakan untuk waktu yang cukup lama.

mengundur agenda ini barang seminggu dua mungkin adalah salah satu opsi yang diberikan otakku, namun aku coba memposisikan diriku dipihak calon peserta. tentu (walaupun tidak semua) calon peserta akan berfikir bahwa Himpunan ini pembohong. Dimana administrasi yang katanya hebat itu?, dimana Manajemen yang katanya mantap itu? kenapa agendanya tidak sesuai dengan yang dijanjikan?, kenapa jadi tak bertanggung jawab begini? bukankah katanya bertujuan untuk membina insan yang bertanggung jawab?. belum lagi keluhan yang akan terlontar, padahal aku udah bayar Rp.10.000 loh!, kalau minggu depan ternyata aku ada agenda yang tak dapat ditinggalkan gimana?, wow,, benar-benar hancur lah ya....

akh,, besok sambung lagi,, nanti aku kelamaan diwarnet jadi tak sanggup bayar. padahal keluhan masih banyak aja nih...

Persoalan Banjir Di Kampus FISIP UR


Genangan air di kawasan kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UniversitasRiau (FISIP UR) Panam, benar-benar meresahkan warga civitas akademika yangberaktifitas di sini, terutama mahasiswa. Ini terbukti dengan terpajangnya beberapa tulisan karya Larsen Yunus.S, mahasiswa sosiologi 2010 yang bertajuk “Kolam Pancingan FISIP UR” di mading-mading yang ada di kampus ini. Masalah genangan air ini juga menjadi topik hangat dalam diskusi-diskusi di kalangan aktifis dan organisatoris yang ada di FISIP UR, terutama BEM dan BLM FISIP UR yang mengutarakan aspirasi mahasiswa FISIP UR atas ketidak nyamanan kondisi ini.

Saya fikir genangan air ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya; Iklim yang memang dalam musim hujan, lokasi FISIP UR yang merupakan “bekas” lahan gambut dan rawa-rawa yang relative rendah sehingga mudah digenangi air, tidak jelasnya arah aliran air di kawasan FISIP UR (bahkan ada saluran air yang buntu), serta tersumbatnya aliran air yang diakibatkan oleh proyek pembangunan Gedung Dosen dan Pascasarjana di kawasan FISIP UR.
Air yang menggenangi sebagian kawasan FISIP UR ini sangat-sangat berdampak negatrif, apalagi sampai saat ini (saat tulisan dibuat-red) belum terlihat usaha untuk mengatasi permasalahan ini secara rill. Air tetap saja dalam kondisi yang sama (kalau tidak mau dikatakan bertambah/berkurang) sejak beberapa waktu lalu saat kondisi ini dimulai hingga saat ini.

Adapun dampak genangan air ini yang saya fikir paling meresahkan adalah sebagai berikut :
  1. Membatasi gerak dan aktifitas civitas akademika (terutama mahasiswa), dimana pada kawasan jalur lalu-lintas (jalan) yang sering dilalui oleh mahasiswa terpaksa dihindari karena digenangi air. Hal yang serupa juga terjadi pada pondok-pondok yang sering digunakan oleh mahasiswa sebagai tempat berdiskusi (sepertipondok IM3) dan sekedar duduk-duduk/istirahat. 
  2. Mencemari lingkungan FISIP UR. Selain “tak elok dipandang mate”, air yang tergenang ini mulai berubah warna menjadi kehitam-hitaman dan mengeluarkan aroma tak sedap. Tentu kondisi ini juga dimanfaatkan oleh kuman, bakteri dan virus “jahat” untuk berkembang biak dengan “baik”.
  3. Menjadi kolam “pembudidayaan” katak yang baik. Sejak mula terjadinya genangan air ini lansung dimanfaatkan oleh katak untuk berkembang biak, terbukti dengan banyaknya beludru atau kecebong yang berenag di genangan air tersebut.
  4. Menjadi tempat yang sempurna untuk perkembang-biakan nyamuk. Mudah-mudahan tidak dimanfaatkan juga oleh nyamuk Aedes aegypti, malaria, dan nyamuk-nyamuk “nakal” lain yang sangat berbahaya. Kondisi ini dirasakan lansung oleh Satuan Pengaman FISIP UR yang terpaksa “mengungsi” ke gelanggang mahasiswa pada malam hari lantaran di Pos biasa banyak sekali nyamuk.
  5. Dan akibat-akibat lain yang tak kalah meresahkan. Keadaan ini harus segera ditangani dan diantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Pihak Dekanat, terutama Bagian Umum dan Perlengkapan seharusnya bertindak responsive dan menyegerakan hal ini.

Mahasiswa juga dituntut untuk turut andil dalam penyelesaian Masalah ini, jangan hanya bias mengocek dan mengejek FISIP UR sebagai kolam pancingan saja karena FISIP UR ini adalah milik kita, tanggung jawab kita bersama. Usaha-usaha yang mendorong pihak dekanat agar bekerja cepat dibutuhkan oleh mahasiswa dalam hal ini, terutama yang bersifat “Menyampaikan Aspirasi” kepada pihak dekanat, atau turun tangan lansung baik secara individual maupun kelompok sebagai pihak yang dirugikan oleh keadaan ini.

Rekomendasi dari saya adalah agar pihak dekanat sesegera mungkin membangun saluran pembuangan genangan air yang ada di FISIP ini, agar bila hujan datang, banjir tak terulang lagi. Tidak perlu (bila tak maudi katakan “JANGAN”) menunggu proyek pembangunan Gedung Dosen dan Pascasarjana kelar dulu karena itu memakan waktu yang cukup lama, sementara masalah ini saya fikir sangat penting dan mendesak mengingat terciptanya suasana  yang kondusif dalam proses belajar-mengajar ataupun Aktifitas lain di lingkungan FISIP UR ini.

Oleh :Pebrizon-Sekretaris
Komisi A BLM FISIP UR

HIDUP MAHASISWA…….!!


HIDUPMAHASISWA!!!! HIDUP MAHASISWA!!! Begitu teriakan yang sering ku dengar  di kampus. Di acara penerimaan mahasiswa baru, pidato ketua-ketua kelembagaan, hingga pada saat turun aksi atau demonstrasi dalam bahasa masa kini. Terlebih lagi aku adalah seorang mahasiswa  FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK, sebuah status yang sangat aku banggakan, tentunya teriakan yang seperti kosong ini adalah hal biasa di telinga kanan maupun telinga kiriku. Kalimat “HIDUP MAHASISWA!!!!” sendiri dalam sudut pandang aku merupakan suatu ajaran sekaligus ajakan agar mahasiswa selalu “HIDUP” dalam artian bergerak. Karena setiap yang hidup, konsekwensi logisnya adalah bergerak. Dengan kata lain seorang mahasiswa dituntut agar selalu aktif bergerak. Dalam bahasa yang sedikit radikal disebut “Anak Gerakan”.

Beberapa orang yang (sok) bijak mengatakan bahwa gerakan adalah hasil penjumlahan antara Logika dan Logistik, sehingga menimbulkan paradigma baru di kalangan mahasiswa sendiri bahwa pergerakan harus selalu dengan uang, yang berakibat buruk mengubah pemikiran intelektual menjadi pragmatis. Namun inti dari pergerakan itu sendiri sebenarnya bukan disana, pergerakan itu tidak hanya bagi mereka yang bergerak setapak demi setapak menjejaki  jalan raya di depan gedung DPRD sambil orasi menyampaikan aspirasi, tapi juga mereka yang banyak membaca buku sehingga kalau berbicara selalu dengan referensi, juga bagi mereka yang sering bertukar fikiran dalam forum-forum diskusi. Atau mereka yang membuat kegiatan yang bermanfaat bagi khalayak ramai. Mereka semua berhak mendapatkan status sebagai Aktivis Sejati.

Seorang mahasiswa dengan kapasitasnya sebagai Agent of change tentu harus senantiasa aktif bergerak dari tempat dia berdiri menuju tempat yang belum pernah ia pijak, atau dengan kata lain harus senantiasa berusaha untuk mewujudkan pencapaian terbesar dalam hidupnya yang patut dia dapatkan. Dalam setiap gerakan haruslah senantiasa memiliki tujuan, baik yang konkrit maupun yang bersifat abstrak. Sebagaimana pengalaman ke arah suatu tujuan ialah pergerakan yang maju kedepan atau progresif. Maka semua nilai dalam kehidupan relative hanya berlaku pada tempat dan waktu tertentu. Kata sukses atau berhasil adalah standard dalam pencapaian akan tujuan relative tersebut. 

Demikianlah segala sesuatu berubah atau bergerak kecuali visi atau tujuan akhir dari segala yang ada. yaitu kebenaran yang mutlak. Jadi setiap tujuan pergerakan haruslah suatu kebenaran, baik yang berupa pribadi atau relative, yang bersifat universal atau pasti tetap dan dapat diterima, maupun suatu kebenaran absolute atau mutlak adanya tergantung dari seberapa besar kita melakukan pergerakan.
Gerakan itu haruslah bersifat dinamis, bukan statis. Dia bukan tradisional apalagi reaksioner (Nurcholish Majid; NDP). Pergerakan menghendaki perubahan terus menerus searah dengan arah menuju kebenaran. Senantiasa mencapai kebenaran-kebenaran selama perjalanan dalam perjuangan pergerakan. Kebenaran-kebenaran itu menyatakan diri dari sejarah masalalu sebuah pergerakan. Suatu pergerakan menuju kebenaran tentu saja tidak dapat dilakukan tanpa adanya pengetahuan. Maka selalu berusaha meningkatkan ilmu dan pengetahuan (dalam hal ini mahasiswa) tentu saja adalah sebuah pergerakan. Begitulah mahasiswa mencapai status sebagai orang gerakan. Karena mahasiswa adalah orang yang senantiasa mendedikasikan waktunya untuk menuntut ilmu dan pengetahuan di kampus-kampus yang di cintai ini.

Pada dasarnya ilmu dan pengetahuan tidak mungkin dapat di capai tanpa adanya suatu kepercayaan, baik kepercayaan akan suatu kemutlakan (absolutely entity) yang menjadi tujuan pergerakan yaitu kebenaran, kepercayaan kepada sesama, maupun kepercayaan-kepercayaan lain yang membantu tercapainya suatu tujuan pergerakan. Kepercayaan lah yang membuat kita setia dating ke kampus untuk selalu menuntut ilmu, baik itu percaya kepada dosen atau yang lainnya. Maka sebuah pergerakan harus dilandaskan kepada sebuah kepercayaan.

Namun kepercayaan dan pengetahuan saja tentu tidak cukup membuat kita bergerak sepenuhnya. Seorang pergerakan harus senantiasa menerapkan apa yang dia ketahui dari apa yang dia percayai kedalam bentuk kongret atau saya lebih suka sebut dengan perbuatan. Sebuah gerakan tidak akan berjalan bila tidak ada tindakan rill dari apa yang kita yakini dan kita ketahui, maka konsep pergerakan adalah berkepercayaan, berilmu dan bertindak (iman-ilmu-amal)

Tidak arif kiranya bila menjustifikasi mereka yang tidak bergerak adalah bukan mahasiswa. Tapi pada kenyataanya setiap manusia sejati (insan kamil) terlepas dari statusnya sebagai mahasiswa atau tidak, haruslah aktif bergerak selagi dia hidup. Maka kata “HIDUP MAHASISWA!!!” tidak hanya dikhususkan untuk mereka yang menyatakan diri sebagai seorang aktivis saja, namun oleh semuanya, semua mereka yang berstatus sebagai mahasiswa yang masih bergerak, semua mahasiswa yang masih HIDUP…

Mahasiswa harus aktif bergerak, mahasiswa harus hidup. Tak peduli apapun yang terjadi, yang penting HIDUP MAHASISWA…. HIDUP MAHASISWA!!!!!

TINJAUAN SEJARAH DAN IDEALISME SISTEM HUKUM NKRI


 

Ada orang bilang bahwa sejarah itu omong kosong, hanya masa lalu dan tak ada gunanya untuk di pikirkan.Namun tidak begitu dengan Bung Karno yang saya setujui 100%.Dalam pidato Bung Karno pada tanggal 17 agustus 1951, beliau berpesan kepada bangsa ini agar mempelajari sejarah, karena sejarah akan mengahasilkan hukum, hukum yang bersifat pasti, tetap dan dapat diterima, dan tugas kita berdasarkan wasiat bapak proklamator tersebut adalah menarik moral dari hukum yang dilahirkan dari sejarah tersebut karena sejarah adalah ketetapan dan kuasa dari tuhan yang maha kuasa. Maka dengan kesempatan ini saya akan mencoba membuktikan bahwa sejarah akan melahirkan hukum yang dapat kita tarik moral daripadanya.

 Seperti yang kita ketahui, semua aktifitas manusia ditekankan untuk melakukan hal benar, bukan yang mereka fikir benar.Seperti halnya mencuri, bagi orang yang sedang kepepet dililit hutang misalnya yang tak memiliki tempat dalam dunia kapital ini tempat untuk mencari nafkah, tentu saja mencuri itu mereka pikir dapat dibenarkan.Tapi tetap saja mencuri ituhal yang salah.Kita dituntut untuk menemukan kebenaran, bukan pembenaran.Artinya kita ditekankan untuk tidak mencuri, bukan mencari pembenaran atas pencurian.

Untuk mendapatkan kebenaran akan suatu hukum, dalam hal ini saya menggunakan sebuah pisau analisis tinjauan sejarah dan pandangan kedepan dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia yang saya pelajari dari seorang siswa PUSLAKSUS PETA (pusat latihan kepemimpinan khusus pejuang tanpa akhir/pembela tanah air) yang dia sebut dengan knowledge management. Dimana untuk menganalisis sesuatu kita harus memiliki data dengan konteks yang menghasilkan informasi, informasi yang memiliki pola hubung akan menghasilkan pengetahuan atau knowledge, pengetahuan harus melalui prinsip dasar system agar melahirkan kearifan. Namun kearifan saja belun cukup, ia harus disandingkan dengan kebenaran universal yang bersifat pasti, tetap, dan dapat diterima agar menghasilkan suatu kebenaran.

Pacu jalur kuantan singingi, sebuah formula yang dibutuhkan bangsa



Pacu jalur adalah sebuah tradisi yang telah mengakar  di seputaran rantau kuantan atau di kabupaten kuantan singingi pada umumnya. Jalur yang dipacukan di sungai batang kuantan ini adalah sejenis perahu yang berukuran besar yang bisa menampung lebih kurang enampuluh orang, terbuat dari kayu besar yang didapat dari hutan, panjang jalur yang mencapai hingga lima puluh meter lebih dengan lebar pada bagian tengahnya lebih kurang satu meter dan pada bagian ekor ada ukiran dari kayu setinggi orang dewasa. Sepanjang jalur pun dicat dengan motif warna-warni. Jalur benar-benar memiliki nilai estetika yang sangat tinggi.

Selain nilai seni yang tinggi, pacu jalur kuantan singing ini tentu saja mengandung nilai budaya yang sangat luhur dari masyarakat rantau kuantan yang mencerminkan etika musyawarah dan gotong royong yang mengakar pada masyarakat rantau kuantan dan kabupaten kuantan singing pada umumnya. 

Melihat dari historical background atau latar belakangsejarahnya, pacu jalur ini sudah dimulai sejak lebih kurang satu abad yang lalu. Sebelumnya jalur adalah sebagai alat transportasi air oleh masyarakat rantau kuantan. Namun jalur tetap saja jalur, baik dipacukan atau tidak.

Proses pembuatan jalur bukanlah perkara mudah. Ini yang saya ingin pelajari sejak lama. Dan saya juga ingin masyarakat rantau kuantan bahkan Indonesia pada umumnya menyadari akan hal ini.

Sebelum masyarakat mulai membuat jalur, maka tentu saja dimulai dengan musyawarah terlebih dahulu. Tidak pernah terjadi voting dalam pencarian kayu untuk pembuatan jalur ke hutan, waktu penebangan kayu, “maelo jaluar” atau membawa kayu yang sudah mulai berbentu jalur dari hutan ke kampong atau banjar, proses pembentukan jalur dari kayu bulat menjadi jalur, “mandiang jaluar” atau memanaskan jalur yang sudah jadi diatas api unggun, pengecatan atau pe-motifan jalur, jalur “turun mandi” atau penurunan jalur dari kampong ke sungai batang kuantan, latihan pacu, penentuan anak pacuan yang akan menjadi atlit pemacu jalur tersebut, sampai pacu jalur yang terkenal itu diselenggarakan tidak pernah ditentukan jadwalnya dengan voting, tapi dengan musyawarah untuk
mencapai mufakat berdasarkan hikmat kebijaksanaan atau keilmuan yang memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang oleh penduduk sekitar disebut “mampokat”

Ini menggambarkan bahwa masyarakat rantau kuantan adalah masyarakat yang memiliki semangat musyawarah yang tinggi. Tentu saja musyawarah ini juga dilakukan dalam pembangunan strategi dan pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan dan tujuan khalayak seperti “mampokat barolek” atau musyawarah untuk menentukan segala macam hal sebelum dilansungkan sebuah pernikahan), mampokat banjahq/mampokat banjar atau musyawarah setingkat desa, dalam beradat-istiadat hingga ke semua aspek kehidupan masyarakat rantau kuantan selalu dibangun dengan jiwa musyawarah karena musyawarah dalam “pacu jalur” adalah cerminan moral dan etika masyarakat rantau kuantan.

Inilah yang harus kita pertahankan. Karena musyawarah untuk mencapai mufakat dengan   pengambilan keputusan berdasarkan hikmat kebijaksanaan atau berdasarkan ilmu jauh lebih baik dari pada proses pengambilan keputusan dengan suara terbanyak yang berdasar atas keberuntungan belaka atau lebih tepatnya “berjudi nasib” seperti demokrasi yang kita kenal sekarang ini.

Pacu jalur ini juga membuktikan kepada kita bahwa masyarakat rantau kuantan dahulunya jauh lebih cerdas daripada orang barat atau Eropa yang hanya bisa membangun system seperti Demokrasi dengan suara terbanyak yang berdasar atas keberuntungan belaka, sedangkan masyarakat rantau kuantan mampu membangun sebuah system musyawarah dengan kebulatan suara atau mufakat bersama yang berdasar atas keilmuan atau hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

Disamping nilai musyawarah yang merupakan mode required by nation (modern) of Indonesia atau formula yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia ini, pacu jalur juga mengandung nilai gotong royong yang sangat kental. 

Kegotong-royongan dapat mudah dilihat sepintas laluoleh siapa saja yang menyaksikan pacu jalur. Dalam berpacu setiap anak pacu harus sama-sama mendayung didalam jalur. Kita bisa lihat indahnya keserentakan yang dilakukan oleh anak pacuan ketika pendayung naik dan turun, semua serentak tanpa ada yang timpang atau berbeda. Sebuah gambaran kekompakan, kerjasama dan kegotong royongan yang sangat luar biasa.

Namun bila kita melihat sejarah terbuatnya suatu jalur, kita akan semakin tau seperti apa kegotong-royongan yang dibangun oleh masyarakat rantau kuantan, seperti pada saat mencari kayu jalur, maelo jaluar, mandiang jaluar, turun mandi jaluar hingga pada saat pacu jalur semuanya dibangun dengan azas kegotong-royongan, bukan individualisme atau perseorangan. Bila kegotong-royongan tidak ada, maka alamat jalur tak kan tercipta.

Dengan pacu jalur akan meningkatkan silaturrahmi diantara masyarakat rantau kuantan, baik anak pacuan yang saling berlomba, maupun masyarakat yang menonton yang saling bertemu untuk mendukung jagoannya agar menang. Namun tetap saja yang menentukan kemenangan adalah jalur yang berpacu, bukan dengan teriakan suara pendukung yang terbanyak seperti pemilu yang kita kenal sekarang ini.

Pacu jalur juga melahirkan semangat sportifitas bagi masyarakat rantau kuantan, terutama bagi anak pacuan karena ketika ternyata jalur yang mereka pacukan kalah, mereka bisa menerima dengan lapang dada dan dengan alas an yang saya piker sangat tepat yaitu kemenangan lawan membuktikan bahwa mereka lebih laju atau lebih cepat dalam berpacu dan lebih pantas untuk menang. Kalaupun terjadi pertikaian setelah berpacu, biasanya dipicu oleh kesalahan segelintir oknum bukan system dengan kemenangan berada ditangan yang pantas.

Pacu jalur yang diadakan di sungai batang kuantan ini tentu saja mengingatkan kita akan lingkungan yang mendukung pacu jalur itu sendiri seperti sungai kuantan yang merupakan lingkungan pokok dalam pacu jalur. Maka pacu jalur mengingatkan kita agar selalu menjaga kebersihan sungai, dalam hal ini sungai kuantan. Selain itu lingkungan hutan yang menjadi sumber dari semua jalur juga harus dijaga dari illegal-logging dan pengrusakan hutan lainnya karena jika kayu-kayu besar dihutan habis dibabat oleh keserakahan seperti illegal-logging maka membuat jalur mau pakai apa? Inilah hal yang tersirat dari pacu jalur kuantan singing ini.

Dengan begitu jelaslah oleh kita bahwa pacu jalur adalah nilai budaya yang menciptakan hukum atau nilai aturan dasar seperti menetapkan musyawarah sebagai metoda pengambilan keputusan atau nilai politik, senantiasa bergotong royong dan bersilaturrahmi dan sportifitas yang tinggi sebagai nilai social, pembuatan jalur yang sangat bermanfaat bagi masyarakat atau nilai ekonomi sosialis ala Indonesia-dalam hal ini masyarakat rantau kuantan, dan selalu menjaga lingkungan baik sungai-hutan-atau lainnya yang disebut juga nilai lingkungan. Enam wahana nilai yang sangat dibutuhkan dalam menciptakan sebuah pormula yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia (modern of Indonesia) dan masyarakat rantau kuantan yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia itu sendiri, maupun masyarakat dunia internasional.

1 Juni hari kelahiran Pancasila itu salah


Tanggal satu Juni lalu, kita merayakan satu hari peringatan, yaitu peringatan Hari Kelahiran Pancasila. Pertanyaannya, apa benar pada tanggal tersebut Pancasila yang diajarkan disekolah-sekolah sampai pada bangku perguruan tinggi yang kita yakini sebagai idiologi dan falsafah bangsa itu dilahirkan pada tanggal 1 Juni ?

Pertama-tama, kita harus dapatkan informasi dari apa yang terjadi pada tanggal 1 Juni tersebut, tepatnya pada tanggal 1 Juni 1945. Dimana pada saat itu sedang di selenggarakan sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau yang lebih kita kenal dengan Badan Penyidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang telah berlansung sejak tanggal 29 Mei 1945 yang bertujuan untuk menentukan dasar indonesia merdeka.

Apa itu Dokurutsu Zyunbi Tyosakai? Menjelang kekalahannya di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945, dengan acara tunggal menjawab pertanyaan Ketua BPUPKI, Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat, “Indonesia merdeka yang akan kita dirikan nanti, dasarnya apa?”

Hampir separuh anggota badan tersebut menyampaikan pandangan-pandangan dan pendapatnya. Namun belum ada satu pun yang memenuhi syarat suatu sistem filsafat dasar untuk di atasnya dibangun Indonesia Merdeka.

Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia Merdeka, yang dinamakannya Pancasila. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai.

“Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5? Saya telah mengemukakan 4 prinsip:1. Kebangsaan Indonesia; 2. Internasionalisme atau perikemanusiaan; 3. Mufakat atau demokrasi 4. Kesejahteraan sosial.; Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.” begitu
kutipan dari pidato soekarno untuk menjawab pertanyaan ketua BPUPKI. Bung karno yang menyebut istilah Pancasila dan pertama kali pula membahas “dasar negara” Seperti yang diminta oleh pimpinan sidang BPUPKI. Istilah Pancasila sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari kata Panca yang berarti lima dan Sila yang berarti dasar, dengan demikian Pancasila berarti lima dasar.

Karena pidato tersebut tidak dipersiapkan secara tertulis sebelumnya, maka Selanjutnya BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno itu. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikusno Tjokrokusumo, Abdulkahar Muzakir, HA Salim, Achmad Soebardjo dan Muhammad Yamin) yang bertugas “merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 yang selanjutnya merumuskan pancasila pada tanggal 22 juni 1945 yang dikenal sebagai piagam jakarta sebagai berikut: 1 Ke-tuhanan dengan kewajiban menjalankan sariat-sariat islam bagi pemeluk-pemeluknya; 2. Menurut dasar Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3. Persatuan Indonesia; 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan dan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Kemudian rumusan tersebut di sahkan oleh Dokuritsu Junbi Inkai  atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai bagian dari pembukaan UUD  dalam bentuk rumusan seperti yang kita kenal sekarang. Pancasila memang tercantum dalam UUD 1945, namun pancasila bukan pasal atau ayat konstitusi. Melainkan menjiwai, artinya pancasila berada diatas UUD 1945.

Mengutip Dr Asvi Warman Adam (2012) dalam bukunya yang berjudul  “menyingkap tirai sejarah – Bung Karno & kemeja Arow”  menyikapi buku “ naskah proklamasi yang otentik dan rumusan pancasila yang otentik” oleh Nugroho Notosusanto( 1971) yang menceritakan Mengenai Pancasila yang dirumuskan oleh M.Yamin pada tanggal 29 mei 1945 yang berbunyi: “1. peri kebangsaan; 2. peri kemanusiaan; 3. peri ke Tuhanan; 4. peri kerakyatan; 5 kesejahteraan rakyat”, ini di kutip dari buku M.Yamin yang terbit tahun 1959 yang tampaknya ditulis kemudian, artinya  pada tanggal 31 Mei, Yamin tidak berpidato sepanjang 21 halaman karena waktu yang tersedia hanya 120 menit untuk 7 pembicara.

Sedangkan rumusan Pancasila yang diceritakan Nugroho Notosusanto (1981) dalam bukunya “Proses perumusan Pancasila  dasar negara”, menceritakan tentang  pancasila yang dirumuskan oleh  Soepomo pada tanggal 31 mei 1945 yang berbunyi: “1. Persatuan; 2. keseimbangan lahir dan batin; 3. Kekeluargaan; 4. keadilan rakyat; 5. Musyawarah. Pidato soepomo pada tanggal 31 mei 1945 itu sebenarnya membahas syarat-syarat berdirinya sebuah negara. Bukan tentang dasar negara, jadi tidak merumuskan Pancasila sama sekali.

Jauh sebelum Republik Indonesia, Pancasila sudah dianut dan menjadi dasar filsafat serta ideology Kerajaan Maghada pada Dinasti Maurya sejak dipimpin oleh raja yang gagah perkasa ASHOKA (sekitar tahun 273 SM – 232 SM). Raja Ashoka merupakan penganut agama Buddha yang taat. Pancasila sendiri merupakan ajaran yang  diciptakan oleh Sang Buddha Siddharta Gautama, Pancasila merupaka ajaran yang harus diamalkan oleh setiap penganut agama Buddha bahkan sampai kini. Dimana rumusan pancasila tersebut dalam terjemahan bahasa indonesia berbunyi kira-kira seperti ini: 1. Aku bertekad melatih diri untuk menghindari pembunuhan (nilai kemanusiaan) guna mencapai samadi.; 2. Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan (nilai keadilan)guna mencapai samadi.; 3. Aku bertekad melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila (berzinah, menggauli suami/istri orang lain, nilai keluarga)guna mencapai samadi.; 4. Aku bertekad untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar /berbohong, berdusta, fitnah, omongkosong (nilai kejujuran)guna mencapai samadi.; 5. Aku bertekad untuk melatih diri
menghindari segala minuman dan makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan (nilai pembebasan)guna mencapai samadi.

Bung Karno berkata bahwa Pancasila ini merupakan kristalisasi dari nilai-nilai kebudayaan yang baik yang sudah mendarah daging dalam jati diri bangsa selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Pancasila itu tidak pernah diciptakan baik oleh Soekarno atau pun Muh.Yamin seperti yang sering diperdebatkan. Pancasila itu digali dan didalami bahkan dari jaman pra-sejarah. Musyawarah, gotong royong dan toleransi beragama
tidak dilahirkan dari kurikulum pendidikan. Pun mereka tidak lahir di dalam kemasan wacana dan hafalan. Musyawarah, gotong royong, juga toleransi beragama lahir dari cara hidup. Tumbuh di dalam masyarakat beratus-ratus tahun. Bukan sebuah produk siap saji.

Bila sebelumnya membahas Pancasila, mari sekarang kita lihat kata lahir, berdasarkan kamus bahasa indonesia, kata lahir itu berarti: keluar dr kandungan:  muncul di dunia (masyarakat):. Nah, berdasarkan ulasan diatas apa benar pancasila lahir pada tanggal 1 juni 1945? Bila begitu pada tanggal tersebut harusnya Pancasila muncul ke dunia, dari yang belum ada menjadi ada. Sementara istilah Pancasila itu sendiri sudah digunakan oleh umat agama Budha sebagai lima dasar ajarannya, nilai-nilai dari Pancasila tersebut juga sudah ada sejak puluhan bahkan sejak ribuan tahun lamanya yang telah tertanam dalam jiwa setiap manusia Nusantara ini, ketuhanan- siapa yang tau sejak kapan orang indonesia mengenal tuhan? Kemanusiaan- apakah manusia Indonesia tidak beradab sebelum tanggal 1 juni 1945? Persatuan- apakah masyarakat Indonesia tidak pernah bersatu sebelum tanggal 1 juni 1945? Permusyawaratan- apakah orang Indonesia baru bisa bermusyawarah sejak tanggal 1 juni 1945? Keadilan sosial- apakah rakyat Indonesia belum bisa adil sebelum tanggal 1 juni 1945?. TIDAK. Jawabannya tidak, masyarakat Indonesia telah mengenal dan menerapkan semua poin-poin dalam pancasila ini sejak ribuan tahun lalu.

Lagipula bila yang dimaksud isi dari Pancasila tersebut, baru ada pada tanggal 18 agustus 1945 dalam sidang PPKI dengan mengganti tujuh kata (dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemelupemeluknya) dengan tiga kata (yang maha esa) pada sila pertama yang dirumuskan oleh panitia sembilan pada tanggal 22 juni 1945 dalam bentuk piagam jakarta. Sementara kelima kalimat yang disampaikan oleh Bung Karno dalam pidato 1 Juni nya tidak termasuk dalam redaksional rumusan yang disepakati. Dengan kata lain, PANCASILA lahir secara konkrit pada tanggal 18 agustus 1945 bersamaan dengan ditetapkannya UUD 1945 sebagai konstitusi dengan Pancasila tercantum di dalam pembukaannya pada alinea ke empat. Istilah Pancasila sendiri telah digunakan sebagai dasar negara sejak zaman Kerajaan Maghada pada Dinasti Maurya yang dipimpin oleh raja yang gagah perkasa ASHOKA (sekitar tahun 273 SM – 232 SM) di india dan kerajaan Majapahit sejak sekitar tahun 1293 M. Sedangkan nilai-nilainya sudah ada sejak ribuan tahun lamanya dalam jiwa setiap manusia di nusantara ini bahkan di luar nusantara.

Lalu bagaimana dengan tanggal 1 juni 1945. Apa tidak pantas diperingati? Tentu saja pantas karena biar bagaimanapun pada tanggal tersebut Pancasila ditetapkan sebagai dasar indonesia merdeka, jadi kalau mau di peringati, peringatilah tanggal 1 juni sebagai hari ditetapkanya pancasila sebagai dasar indonesia merdeka, bukan sebagai hari lahir Pancasila.


Belajar cara Membuat Puisi : PUISI AKU

APA AKU??

oleh Pebrizon Black'proyexs pada 18 November 2011 jam 17:21

Bersamamu,,,
Seperti belum pernah terjadi dalam hidup ku..
Bersamamu,,,
Suatu yang terasa asing dalam hidupku..


Siapakah kau,,,?
Aku benar2 tak tau,,
Siapakah kau....
Kenapa aku merasa tidak mengenalmu


Tidak disaat kuantanku mengamuk..
Tidak pula disaat kuantanku kunak2..
Bahkan hingga pulau bane menangis,,
Hingga kompang tanikek tak mampu menyebrang...


Kau terasa begitu asing bagiku..

Bukan...
Bukan saat rembulan tersenyum..
Bukan saat bintang bergemerlap..
Bukan di dam kinali...
Bukan pula di pulau paboun..


Tapi saat ini..
Dengan begini..
Seperti ini..
Saat aku merindukanmu...
Saat itu,, aku akan merasa sedang bersamamu..


Lalu kenapa kau masih mempertanyakan ini..?
Saat semuanya telah terlanjur terjadi..

Kau bukan yang menemani disaat aku berada di guruh gemurai..
Kau bukan yag menemaniku disaat aku berada di batangkoban,,


Tapi,,
Kau yang menemaniku disaat aku merindukanmu,,
Kau yang tak bisa menjauh dari pikiranku..
Kau yang selalu dihatiku...
Selalu...


Percayalah kasihku...
Cintaku lebih panjang daripada batang kuantan..
Lebih bening daripada air yang mengalir di batangontan..
Lebih tinggi daripada bukit tabandang..
Lebih indah daripada parahu baganduang,,
Bahkan mengalahkan jalur kalojengking tigo jumbalang..


Lalu apa,,?
Apa yang kau berikan padaku,,?
Pengertian kah?
Kepercayaan kah,,?
Kejujuran kah?
Kesetiaan kah?


Akh,,
Jangan lebay...,
Lalu kau anggap apa aku??

Pelestarian adat. Peran remaja yang terlupakan


Regenerasi yang gagal. Itulah kendala yang akan kita hadapi bila memang ingin melestarikan adat dan budaya kuantan singingi ini.

Bahkan dengan hadirnya mata diklat "seni budaya" sebagai salah satu muatan lokal dalam kurikulum pendidikan di sekolah sekolah dinilai kurang berhasil. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya remaja kita yang bingung bila ditanya tentang adat dan budaya, tak terkecuali saya. Bahkan ada diantara remaja kita yang tidak tau dan tidak mau tau mereka terlahir dalam suku apa, siapa penghulu adat nya, ninik mamak nya, kemenakan nya, dunsanak-dunsanak nya, bako nya, juga yang akan "dikatoan" bila menikah nanti. Mereka juga tidak mengerti dengan pitata dan pantun-pantun yang sering diucapkan pada acara-acara adat.

Dimata remaja kita, adat dan budaya ini tak lebih dari sebuah lelucon, buah bibir orang tua-tua dulu dan di anggap hal yang tak penting, kuno dan ketinggalan jaman. "Bukankah lebih asik mengetahui dan mempelajari sesuatu yang lebih moderen dengan gaya kebarat-baratan yang lebih keren dan gaul,,?" begitulah jawaban remaja tentang masalah adat.

Mungkin benar sekarang masih banyak yang mengerti adat di kuansing ini, tapi bukan dari kalangan remaja yang harusnya menjadi calon-calon pemimpin masa depan dan orang yang nantinya bertanggung jawab atas keberlansungan adat dan budaya di kuansing ini. Sebagai putra kuansing yang berdomisili di negrinya sendiri, saya sangat prihatin dengan kondisi ini. Lantas apa jadinya bila generasi muda kita tidak berpengetahuan tentang adat istiadatnya sendiri,? Seperti apa negeri kita ini 50 tahun kedepan,?

Salah satu contoh nya saja; RARAK atau CALEMPONG, alat musik tradisional kita yang identik dengan pacu jalur dan acara-acara adat lain nya ini siapa yang bisa memainkannya,? Remajakah,? Kaula mudakah,? Atau,,,- generasi muda "50 tahun silam",? Lalu siapa yang akan memainkan alat musik ini 20 tahun kedepan,?

Saya rasa percuma saja kita bicara masalah pelestarian adat bila tidak melibatkan remaja dan secara lansung.

Mungkin akan lebih baik bila diadakan penerangan tentang adat istiadat ini kepada remaja, atau kalau perlu mendirikan suatu organisasi remaja peduli adat kuansing. Hal yang tak mampu saya lakukan, tapi saya yakin mampu dilakukan oleh abang-abang sekalian...

Sungai kuantan, Penambang emas liar dan kesedihannya.

Hai kuantanese,,! Pernahkah kuantanese berpikir tentang sungai kuantan yang melintasi kabupaten kuantan-singingi kita ini keadaan nya ratusan tahun lalu seperti apa,? Mungkin tak ada yang berpikir hingga sejauh itu, bahkan ada yang tak mau ambil pusing dengan hal ini sama sekali bukan,? Anehnya pertanyaan seperti itu bergelantungan di pikiran saya hingga membuat saya tak bisa tidur pada suatu malam.

Dalam pikiran saya, sungai kuantan yang kita banggakan ini ratusan atau mungkin masih puluhan tahun silam keadaannya jauh lebih baik daripada saat ini. Air yang sekarang kuning keruh dan kotor, bisa jadi pada masa nya dulu adalah air yang jernih, bersih, segar, yang merupakan penyejuk dan pelepas dahaga yang tak ternilai harganya bagi ribuan bahkan jutaan makhluk yang memanfaatkan dan membutuhkan air nya. Orang orang yang tinggal di pinggiran sungai yang menggantungkan mata pencaharian dan kehidupannya di sungai ini hidup sejahtera berkat hasil dari sungai nan elok dan indah itu melimpah ruah. Yah,,,, meskipun ini hanya imajinasi saya semata, tapi setidaknya bisa menjadi tolak ukur dalam notes ini.

Kuantanese,, jangan mengaku orang kuantan bila tidak mengetahui seburuk apa keadaan sungai kuantan yang menjadi icon dan identitas diri kita ini sekarang. Sungai kuantan yang kita banggakan ini tak lebih dari sebuah aliran air yang menyedihkan, kotor, keruh, dan menjijikan, bahkan, jangankan untuk di konsumsi, untuk MCK saja sudah bisa dikatakan tidak layak lagi. Mandi sambil berenang renang kehulu dan berakit rakit ketepian yang dulu menyenangkan sekarang menjadi hal yang menakutkan karna dapat membuat badan gatal-gatal dan alergi. Ditambah lagi dengan "datuak di aiar" yang mulai sering menampakan diri ke permukaan lantaran merasa keberadaanya terganggu menimbulkan suasana yang kian mencekam. Nah bagaimana perasaan kuantanese sekarang? Masih bangga dengan sungai kuantan yang telah tercemar ini,?

Salah satu alasanya: PENAMBANGAN EMAS DAN PASIR LIAR yang bawel dan tak mampu dihentikan pemerintah. Seolah olah pemerintah hanya memandang sebelah mata akan pencurian aset negara terbesar yang tersimpan di dasar sungai kuantan yang katanya dilindungi undang undang ini. Tak terlihat sedikitpun hasil kerja aparat penegak hukum di sana. Buktinya, perahu atau kapal dengan mesin penyedot yang menggunakan sentrifugal berdiameter diatas 12 inchi masih dapat kita jumpai dengan mudah di sepanjang sungai kuantan, terutama di kecamatan hulu kuantan dan kuantan mudik. Apakah dengan ini kinerja pemerintah dan aparat penegak hukum tidak pantas untuk di pertanyakan,? Ataukah ada oknum oknum tertentu yang bermain di belakang panggung hingga "pesta kembang api" ini tak tersentuh hukum,?

Meskipun begitu kita tidak dapat menyalahkan pemerintah dan aparat sepenuhnya. Bagaimana pun juga kuantan adalah milik kuantanese (orang kuantan) sepenuhnya. Yang seharusnya menjaga, memelihara, dan bertanggung jawab sepenuhnya adalah kita orang kuantan, bukanya menunggu hingga datang orang lain untuk memperbaiki "serambi rumah kita" ini.

Lihatlah kuantanese,,! Apa keadaan air yang semakin memprihatinkan dan erosi serta longsor yang mengikis tepian mandi kita ini tidak mengganggu,? Bunyi mesin mesin "pencuri" yang kian hari semakin memekakkan gendang telinga ini belum membuat kita merasa risih,? Akankah kita hanya berdiam diri saja menyaksikan orang orang yang tak bertanggung jawab ini menghancurkan "identitas diri" yang kita gadang-gadangkan,? Lantas apa yang akan kita lakukan,? Pantaskah kabupaten ini bernama "KUANTAN singingi" bila pemerintahnya tak mampu mengobati penyakit yang menggerogoti kuantan dan singingi ini,?

Renungkanlah wahai kuantanese sekalian, cobalah luangkan waktu sejenak untuk memikirkan nasib sungai kuantan ini kedepanya seperti apa. Apakah kita tidak malu mempertontonkan kekotoran dan kerusakan sungai kuantan pada iven pacu-jalur, parahu-baganduang dan acara acara lain yang diadakan di sungai kuantan yang disaksikan jutaan pasang mata dari dalam dan luar daerah?? Ingatlah bahwa, KEBUDAYAAN INI KERUH SEIRING KERUHNYA AIR SUNGAI KUANTAN. Dan KUANTAN ADALAH INTI KEBUDAYAAN KITA,.

Adakah yang mampu menghargai notes ini sebagai bukti kecintaanya akan sungai kuantan.?? Semoga saja begitu.

Top