Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

KOMUNIKASI DAN MANAJEMEN

Komunikasi dalam Manajemen

Komunikasi ada di mana-mana, di rumah, dikampus, di Mesjid, di Kantor dan sebagainya. Komunikasi menyentuh segala aspek kehidupan kita. Sebuah penelitian (Applboum, 1974 : 63) menyebutkan bahwa tiga perempat (70%) waktu bangun kita digunakan untuk berkomunikasi – membaca, menulis dan mendengar an (We spend an estimated three-fourths of our waking hours in some form of communications-reading, writing, speaking and listening) Komunikasi menentukan kualitas hidup kita. Komunikasi memiliki hubungan yang erat sekali dengan kepemimpinan, bahkan dapat dikatakan bahwa tiada kepemimpinan tanpa komunikasi.



Apalagi syarat seorang pemimpin selain ia harus berilmu, berwawasan kedepan, ikhlas, tekun, berani, jujur, sehat jasmani dan rohani, ia juga harus memiliki kemampuan berkomunikasi, sehingga Rogers (1969:180) mengatakan “Leadership is Communication. Kemampuan berkomunikasi akan menentukan berhasil tidaknya seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya. Setiap pemimpin (leader) memiliki pengikut (flower) guna meralisir gagasannya dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Disinilah pentingnya kemampuan berkomunikasi bagi seorang pemimpin, khususnya dalam usaha untuk mempengaruhi prilaku orang lain.

Inilah hakekatnya dari suatu manajemen dalam organisasi. Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasisan, pengarahan dan pengawasan dengan memberdayakan anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan (Handoko, 2003: 8). Menajemen sering juga didefinisikan sebagai seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain. Para manejer mencapai tujuan organisasi dengan cara mengatur orang lain untuk melaksanakan tugas apa saja yang mungkin diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut (Stoner, 1996 : 7)

Manajemen dibutuhkan oleh semua organisasi, karena tanpa manajemen, semua usaha akan sia-sia dan pencapaian tujuan akan lebih sulit. Paling kurang ada tiga alasan utama mengapa manajemen itu dibutuhkan.

Pertama : Untuk mencapai tujuan. Manajemen dibutuhkan untuk mencapai tujuan suatu organisasi dan pribadi;

kedua : Untuk menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan, sasaran-sasaran dan kegiatan-kegiatan dari pihak yang berkepentingan dalam organisasi, seperti pemilik dan karyawan, maupun kreditur, pelanggan, konsumen, supplier, serikat kerja, assosiasi perdagangan, masyarakat dan pemerintah.

Ketiga : Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas. Suatu kerja organisasi dapat diukur dengan banyak cara yang berbeda. Salah satu cara yang umum adalah efisiensi dan efektivitas.

Komunikasi Dalam Organisasi

Komunikasi dalam organisasi adalah : Komunikasi di suatu organisasi yang dilakukan pimpinan, baik dengan para karyawan maupun dengan khalayak yang ada kaitannya dengan organisasi, dalam rangka pembinaan kerja sama yang serasi untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi (Effendy,1989: 214). Manajemen sering mempunyai masalah tidak efektifnya komunikasi. Padahal komunikasi yang efektif sangat penting bagi para manajer, paling tidak ada dua alasan, pertama, komunikasi adalah proses melalui mana fungsi-fungsi manajemen mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dapat dicapai; kedua, komunikasi adalah kegiatan dimana para manejer mencurahkan sebagian besar proporsi waktu mereka. Proses Komunikasi memungkinkan manejer untuk melaksanakan tugas-tugas mereka. Informasi harus dikomunikasikan kepada stafnya agar mereka mempunyai dasar perencanaan, agar rencana-rencana itu dapat dilaksanakan. Pengorganisasian memerlukan komunikasi dengan bawahan tentang penugasan mereka. Pengarahan mengharuskan manejer untuk berkomunikasi dengan bawahannya agar tujuan kelompo dapat tercapai. Jadi seorang manejer akan dapat melaksanakan fungsi-fungsi manajemen melalui interaksi dan komunikasi dengan pihak lain. Sebahagian besar waktu seorang manejer dihabiskan untuk kegiatan komunikasi, baik tatap muka atau melalui media seperti Telephone, Hand Phone dengan bawahan, staf, langganan dsb. Manejer melakukakan komunikasi tertulis seperti pembuatan memo, surat dan laporan-laporan.

Model Komunikasi dalam Organisasi

Model komunikasi yang paling sederhana adalah adanya pengirim, berita (pesan) dan penerima seperti gambar berikut ini : Model ini menunjukkan 3 unsur esensi komunikasi. Bila salah satu unsur hilang, komunikasi tidak dapat berlangsung. Sebagai contoh seorang dapat mengirimkan pesan, tetapi bila tidak ada yang menerima atau yang mendengar, komunikasi tidak akan terjadi. Model komunikasi yang terperinci, dengan unsur-unsur penting dalam suatu organisasi yaitu :

1.      Sumber mempunyai gagasan, pemikiran atau kesan yang

2.      Diterjemahkan atau disandikan ke dalam kata-kata dan symbol-simbol, kemudian

3.      Disampaikan atau dikirimkan sebagai pesan kepada penerima

4.      Penerima menangkap symbol-simbol

5.      Diterjemahkan kembali atau diartikan kembali menjadi suatu gagasan dan

6.      mengirimkan berbagai bentuk umpan balik kepada pengirim.

Sumber (source) atau pengirim mengendalikan berbagai pesan yang dikirim, susunan yang digunakan, dan saluran mana yang akan digunakan untuk mengirim pesan tersebut. Mengubah pesan ke dalam berbagai bentuk simbol-simbol verbal atau nonverbal yang mampu memindahkan pengertian, seperti kata-kata percakapan atau tulisan, angka, berakan dsb.

Langkah ketiga sumber mengirimkan pesan melalui berbagai saluran komunikasi lisan. Manfaat komunikasi lisan, antar pribadi adalah kesempatan untuk berinteraksi antara sumber dan penerima, memungkinkan komunikasi nonverbal (gerakan tubuh, intonasi suara, dll) disampaikannya pesan secara tepat, dan memungkinkan umpan bali diproleh.

Sedangkan komunikasi terulis dapat disampaikan melalui media seperti :memo, surat, laporan, catatan, bulletin, surat kabar dsb. Komunikasi tulisan mempunyai kelebihan dalam penyediaan laporan atau dokumen untuk kepenting masa mendatang.

Langkah keempat adalah penerimaan pesan oleh pihak penerima. Pada umumnya penerima menerima pesan melalu panca indera mereka.. banyak pesan penting yang tidak diterima oleh seseorang karena mereka tidak menerima pesan karena kesalahan dalam mememilih media yang tepat.

Langkah kelima adalah decoding. Hal ini menyangkut memahami symbol-simbol yang dipergunakan oleh pengirim (sumber). Ini amat dipengaruhi oleh latar belakang, kebudayaan, pendidikan, lingkungan, praduga dan gangguan disekitarnya. Dalam komunikasi dua arah antara pimpinan dan stafnya (atasan dan bawahan) kemampuan pimpinan dalam berkomunikasi menjadi factor penentu berhasil tidaknya orang lain memahami ide, gagasan yang ia sampaikan.

Langkah terakhir adalah umpan balik. Setelah pesan diterima dan diterjemahkan, penerima memberikan respon, jadi komunikasi adalah proses yang berkesinambungan dan tak pernah berakhir. Inilah yang disebut bahwa komunikasi yang efektif.

PENGAWASAN SECARA MANAJEMEN

Pengertian Pengawasan

Pengawasan bisa didefinisikan sebagai suatu usaha sistematis oleh manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja standar, rencana, atau tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan untuk mengambil tindakan penyembuhan yang diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya manusia digunakan dengan seefektif dan seefisien mungkin didalam mencapai tujuan.

George R. Tery (2006:395) mengartikan pengawasan sebagai mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu, menerapkan tidankan-tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Robbin (dalam Sugandha, 1999 : 150) menyatakan pengawasan itu merupakan suatu proses aktivitas yang sangat mendasar, sehingga membutuhkan seorang manajer untuk menjalankan tugas dan pekerjaan organisasi.

Kertonegoro (1998 : 163) menyatakan pengawasan itu adalah proses melaui manajer berusaha memperoleh kayakinan bahwa kegiatan yang dilakukan sesuai dengan perencanaannya.

Terry (dalam Sujamto, 1986 : 17) menyatakan Pengawasan adalah untuk menentukan apa yang telah dicapai, mengadakan evaluasi atasannya, dan mengambil tindakan-tidakan korektif bila diperlukan untuk menjamin agar hasilnya sesuai dengan rencana.

Dale (dalam Winardi, 2000:224) dikatakan bahwa pengawasan tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil kegiatan mengawasi, tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan meluruskannya sehingga mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang direncanakan.

Admosudirdjo (dalam Febriani, 2005:11) mengatakan bahwa pada pokoknya pengawasan adalah keseluruhan daripada kegiatan yang membandingkan atau mengukur apa yang sedang atau sudah dilaksanakan dengan kriteria, norma-norma, standar atau rencana-rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.

Siagian (1990:107) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pengawasan adalah proses pengamatan daripada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar supaya semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.

Kesimpulannya, pengawasan merupakan suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan tujuan dengan tujuan-tujuan perencanaan,merancang system informasi umpan balik,membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya,menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan.

Tahap-Tahap Dalam Proses Pengawasan
Dalam melakukan pengawasan terhadap bawahan yang dilakukan oleh manajer ataupun atasan maka perIu dilakukan tahapan atau proses pengawasan. Menurut Kadarman (2001, hal. 161) langkah-langkah proses pengawasan yaitu:

a.       Menetapkan Standar

Karena perencanaan merupakan tolak ukur untuk merancang pengawasan, maka secara logis hal irri berarti bahwa langkah pertama dalam proses pengawasan adalah menyusun rencana. Perencanaan yang dimaksud disini adalah menentukan standar.

b.      Mengukur Kinerja

Langkah kedua dalam pengawasan adalah mengukur atau mengevaluasi kinerja yang dicapai terhadap standar yang telah ditentukan.

c.       Memperbaiki Penyimpangan

Proses pengawasan tidak lengkap jika tidak ada tindakan perbaikan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.

Sedangkan menurut G. R. Terry dalam Sukama (1992, hal. 116) proses pengawasan terbagi atas 4 tahapan, yaitu:

    Menentukan standar atau dasar bagi pengawasan.
    Mengukur pelaksanaan
    Membandingkan pelaksanaan dengan standar dan temukanlah perbedaan jika ada.
    Memperbaiki penyimpangan dengan cara-cara tindakan yang tepat.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa proses pengawasan dilakukan berdasarkan beberapa tahapan yang harus dilakukan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan standard perencanaan sehingga dalam melakukan pengawasan manajer mempunyai standard yang jelas. Hal berikutnya yang perlu dilakukan adalah mengukur kinerja pegawai, sejauh mana pegawai dapat menerapkan perencanaan yang telah dibuat atau ditetapkan perusahaan sehingga perusahaan dapat mencapai tujuannya secara optimal. Kemudian setelah menetapkan standar dan mengukur kinerja maka hal yang perlu dilakukan adalah membandingkan pelaksanaan dengan standar yang telah membandingkan pelaksanaan dengan standar yang telah ditetapkan. Dan yang terakhir adalah melakukan perbaikan jika ditemukan penyimpangan­-penyimpangan yang terjadi.

Tipe-tipe Pengawasan
Donnelly, et al. (dalam Zuhad, 1996:302) mengelompokkan pengawasan menjadi 3 Tipe pengawasan yaitu :

1.      Pengawasan Pendahuluan (preliminary control).

Pengawasan yang terjadi sebelum kerja dilakukan. Pengawasan Pendahuluan menghilangkan penyimpangan penting pada kerja yang diinginkan yang dihasilkan sebelum penyimpangan tersebut terjadi. Pengawasan Pendahuluan mencakup semua upaya manajerial guna memperbesar kemungkinan bahwa hasil-hasil aktual akan berdekatan hasilnya dibandingkan dengan hasil-hasil yang direncanakan.

Memusatkan perhatian pada masalah mencegah timbulnya deviasi-deviasi pada kualitas serta kuantitas sumber-sumber daya yang digunakan pada organisasi-organisasi. Sumber-sumber daya ini harus memenuhi syarat-syarat pekerjaan yang ditetapkan oleh struktur organisasi yang bersangkutan.

Dengan ini, manajemen menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur dan aturan-aturan yang ditujukan pada hilangnya perilaku yang menyebabkan hasil kerja yang tidak diinginkan di masa depan. Dipandang dari sudut prespektif demikian, maka kebijaksanaan-kebijaksanaan merupakan pedoman-pedoman yang baik untuk tindakan masa mendatang.
Pengawasan pendahuluan meliputi; Pengawasan pendahuluan sumber daya manusia, Pengawasan pendahuluan bahan-bahan, Pengawasan pendahuluan modal dan Pengawasan pendahuluan sumber-sumber daya financial.

2.      Pengawasan pada saat kerja berlangsung (cocurrent control)

Pengawasan yang terjadi ketika pekerjaan dilaksanakan. Memonitor pekerjaan yang berlangsung guna memastikan bahwa sasaran-sasaran telah dicapai. Concurrent control terutama terdiri dari tindakan-tindakan para supervisor yang mengarahkan pekerjaan para bawahan mereka. Direction berhubungan dengan tindakan-tindakan para manajer sewaktu mereka berupaya untuk: Mengajarkan para bawahan mereka bagaimana cara penerapan metode¬-metode serta prosedur-prsedur yang tepat. Mengawasi pekerjaan mereka agar pekerjaan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

3.      Pengawasan Feed Back (feed back control)

Pengawasan Feed Back yaitu mengukur hasil suatu kegiatan yang telah dilaksakan, guna mengukur penyimpangan yang mungkin terjadi atau tidak sesuai dengan standar.
Pengawasan yang dipusatkan pada kinerja organisasional dimasa lalu. Tindakan korektif ditujukan ke arah proses pembelian sumber daya atau operasi-operasi aktual. Sifat kas dari metode-metode pengawasan feed back (umpan balik) adalah bahwa dipusatkan perhatian pada hasil-hasil historikal, sebagai landasan untuk mengoreksi tindakan-tindakan masa mendatang.
Adapun sejumlah metode pengawasan feed back yang banyak dilakukan oleh dunia bisnis yaitu:

a.       Analysis Laporan Keuangan (Financial Statement Analysis)

b.      Analisis Biaya Standar (Standard Cost Analysis)

c.       Pengawasan Kualitas (Quality Control)

d.      Evaluasi Hasil Pekerjaan Pekerja (Employee Performance Evaluation)

PENYULUHAN ANTISIPASI EFEK NEGATIF TAYANGAN SINETRON TERHADAP PERILAKU REMAJA

Televisi

Berdasarkan pengamatan para ahli bidang pertelevisian menyebutkan bahwa informasi yang diperoleh melalui siaran televisi dapat mengendap dalam daya ingatan manusia lebih lama jika dibandingkan dengan perolehan informasi yang sama melalui membaca..

Tayangan Sinetron Indonesia

90% Sinetron Indonesia merupakan jiplakan dari film-film serial bangsa lain. Keadaan ini merupakan pengaruh dari pemahaman pembangunan dalam prespektif modernisasi klasik, yang menyatakan bahwa Negara berkembang akan maju apabila mengikuti seluruh aspek kehidupan  di Negara maju. Pada kenyataannya Negara berkembang akan menjadi lebih mundur apabila Negara berkembang tersebut keluar dari nilai-nilai budaya dan agama yang dianutnya.

Efek Tayangan Sinetron Pada Perilaku Remaja

Efek dalam proses belajar meliputi tahap pengetahuan (Kognitif), sikap (Afektif), dan tindakan (Konatif).

Bulan Januari sampai Agustus 2009, KPI telah menerima lebih dari 4075 pengaduan masyarakat dengan tayangan televisi yang merusak, untuk berbagai kategori tayangan. Jadi remaja harus mampu menyaring tayangan-tayangan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Antisipasi Efek Negative Tayangan Sinetron

Para remaja harus dipahamkan dan berusaha mengaplikasikan nilai-nilai agama dan budaya dalam kehidupan mereka. Kemudian juga yang tidak kalah pentingnya melibatkan komponen-komponen lain yaitu; orang tua, tokoh agama, para pendidik,  tokoh masyarakat, pemerintah, ormas-ormas lainnya. Kita berharap agar semua komponen peduli dan waspada terhadap efek negative tayangan sinetron bagi perilaku remaja..

PENGARUH SISTEM SOSIAL-BUDAYA TERHADAP ADOPSI INOVASI

Sistem sosial

System social adalah kesatuan unit-unit social, dimana masing-masing unit social tersebut pada hakikatnya mempunyaifungsi yang berbeda-beda dan selanjutnya bersatu serta saling bergantung untuk melaksanakan fungsi tertentu.

Norma Sosial, Nilai Hidup, dan Pandangan Hidup Masyarakat Pedesaan

Dalam masyarakat Indonesia, factor norma social, nilai hidup serta pandangan hidupmasyarakat, terutama masyarakat pedesaan sangat kuat pengaruhnya terhadap proses pembangunan dalam masyarakat bersangkutan termasuk dalam hal komunikasi inovasi.

Status dan Peranan dalam masyarakat Desa

Status adalah tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok social, Peran merupakan aspek dinamis dari peran atau kedudukan.

Jenis keputusan inovasi

Jenis keputusan keputusan : keputusan individual; Keputusan Kolektif; keputusan otoritas.

CARA-CARA MENGUKUR POTENSI DIRI

Pengembangan diri harus diawali dengan pengenalan diri, salah satu caranya adalah melalui pengukuran potensi diri. Pengenalan diri akan membantu individu melihat kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya, mengetahui hal-hal yang berkembang dengan hal-hal yang masih perlu dikembangkan. Pengukuran potensi diri dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah potensi-potensi yang dimiliki oleh seorang individu, baik yang diperoleh melalui introspeksi diri maupun malalui feed back dari orang lain serta tes psikologis.

1)  Penilaian diri

Yang dimaksud dengan penilaian diri ini adalah menilai diri sendiri. Ada juga yang mengatakan instropeksi. Sebagian orang mengatakan bahwa dengan cara ini penilaian yang dilakukan sangat subyektif, karena orang umumnya tidak mau melihat kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Tapi pendapat lain mengatakan bahwa yang paling kenal diri anda adalah anda sendiri.


2) Pengukuran diri melalui feed back orang lain

Feed back merupakan komunikasi yang ditujukan kepada seseorang yang akan memberikan informasi kepada orang yang bersangkutan, bagaimana orang lain terkena dampak olehnya, bagaimana kesan yang ditimbulkan pada orang lain dengan tingkah laku yang ditunjukkannya. Feed back membantu seseorang untuk menelaah dan memperbaiki tingkah lakunya dan dengan demikian ia akan lebih mudah mencapai hal-hal yang diinginkannya.


3) Tes kepribadian

Tes kepribadian merupakan salah satu instrumen untuk pengenalan diri sendiri, beberapa tes kepribadian untuk pengukuran potensi diri, yaitu: kepercayaan terhadap diri sendiri, tingkat kehati-hatian, daya tahan menghadapi cobaan, tingkat toleransi, dan pengukuran ambisi.

PERAN KOMUNIKASI SOSIAL DALAM PENDIDIKAN

Memang setiap orang akan memiliki pemikiran dan pendapat yang berbeda-be­da, tetapi ide tersebut bisa dipersatukan me­lalui komunikasi. Bila tetap berbeda ma­­ka itu menjadi suatu hal yang biasa di alam demokrasi. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana membangun komu­nikasi itu yang menyenangkan sehingga tujuan bisa tercapai, meski ada perbedaan pendapat. Bila komunikasi tidak berjalan de­ngan baik maka bisa menghambat suatu roda organisasi. Hal ini pun bisa terjadi dalam dunia pendidikan. Bahkan semua bidang disiplin ilmu pasti membutuhkan yang na­manya komunikasi. Disinilah pentingnya membangun komu­nikasi yang. Secara harfiah, komunikasi dapat diartikan sebagai kesamaan makna dalam menyampaikan suatu pesan. Lebih jelas bahwa dalam berkomunikasi itu dibi­carakan suatu topik yang sama.

Kata atau istilah komunikasi dalam Bahasa Inggris adalah commu­nication. Secara etimo­logis atau asal katanya adalah dari bahasa Latin yakni commu­nicatus, dan perkataan ini ber­sumber pada kata communis. Dalam kata communis ini me­miliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesa­maan makna. (Adi Prakosa). Dalam Kamus Inggris Indonesia (John M. Echlos:1996) ditemukan kata communication, yang berarti hubungan, komunikasi, pem­beritahuan, pengumuman, dan sebagainya.

Yang jelas komunikasi itu lebih kepada menyampaikan suatu pe­san yang dilakukan oleh komunikator (orang yang me­nyam­paikan pesan) kepada ko­munikan (penerima pesan) yang disertai sarana untuk mencapai suatu tujuan dengan ditandai adanya reaksi dari komunikan itu dalam merespon isi pesan tersebut. Karena dalam komunikasi harus ada timbal balik (feed back) antara komu­nikator dengan komunikan.  Begitu juga dengan pendidikan membutuhkan komunikasi yang baik, sehingga apa yang disam­paikan, dalam hal ini materi pelajaran, oleh komunikator (guru) kepada komunikan (siswa) bisa dicerna dengan optimal, sehingga tujuan pen­di­dikan yang ingin dicapai bisa terwujud.

Terkait komunikasi dalam pen­didikan, ada sejumlah orang ya­ng berperan yakni guru dan siswa. Guru merupakan orang yang dianggap mampu mentransfer materi ajar, gagasan, wawasan lainnya kepada siswa haruslah dipandang sebagai sebuah proses belajar mengajar. Tetapi guru juga tidak boleh anti kritik. Justru dengan kritik dan saran itu akan menambah wawa­san lain dan timbal balik dalam belajar akan semakin hidup dan menyenangkan. Jangan sampai guru memiliki sifat otoriter atas semua kebijakan di sekolah saat mengajar.

Jangan jadikan siswa sebagai objek. Justru sebaliknya, siswa harus dijadikan subjek dalam sebuah pembelajaran.  Di sinilah pentingnya seorang guru memiliki komunikasi yang lancar, baik dan mampu mengge­rakkan siswa untuk melakukan interaksi. Membuat suasana be­lajar menyenangkan, nyaman, dan tak tertekan. Guru bukan hanya sebagai orang yang me­ngajar, tetapi lebih dari itu yakni sebagai orang tua, rekan, maupun sahabat. Karena ada siswa yang tidak mau terbuka kepada orang tua, tetapi kepada guru bisa terbuka terkait dengan persoalan atau masalah yang sedang di­hadapinya, sehingga rasa kasih sayang dari seorang guru kepada siswa akan menjadikan motivasi tersendiri. Kemudian guru yang berperan sebagai teman harus mampu membuat siswa bergaul dengan leluasa dalam artian ada batasnya. Jelas ini akan me­nambah percaya diri siswa dalam belajar. Karena pada hakikatnya tujuan komunikasi itu adalah bagaimana bisa dan mampu merubah suatu sikap (attitude), pendapat (opinion), perilaku (behavior), ataupun perubahan secara sosial (social change).  Perubahan sikap seorang komunikan (siswa) setelah materi dari guru (komunikator) ter­gambar bagaimana sikap siswa itu dalam keseharian baik di sekolah maupun lingkungannya. Tentunya perubahan itu ke arah yang lebih baik, bukan sebaliknya

Kemudian perubahan pendapat siswa akan terjadi bila gagasan yang diberikan guru bersifat global. Jelas siswa akan me­nangkap materi ajar itu berbeda-beda, siswa akan mampu menafsirkan apa yang diajarkan oleh guru tadi yang kemudian bisa mengeluarkan penadapat atau beropini. Begitu juga dengan perubahan prilaku dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya apakah prilaku siswa sudah sesuai apa yang dicontohkan di sekolah, misalnya cuci tangan sebelum makan, berdoa sebelum tidur dan lain-lain. Yang tak kalah pentingnya adalah perubahan sosial, karena persoalan ini lebih kepada hubungan interpersonal, menjadikan hubungan yang lebih baik.

Daftar Pustaka

    Arief Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004).
    Burhanuddin, Analisis Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, (Malang : Bumi Aksara, 1994).
    Dadang Sulaeman dan Sunaryo, Psikologi Pendidikan, (Bandung : IKIP, 1983).
    I. Nyoman Bertha, Filsafat dan Toeri Pendidikan, (Bandung : FIP IKIP. 1983).

PERANAN KOMUNIKASI SOSIAL DALAM MODERNISASI DI INDONESIA

PENDAHULUAN

Modernisasi menunjukkan kepada satu tipe perubahan sosial yang berasal dari revolusi industri di Inggris (1760-1830) dan dari revolusi politik di Perancis (1789-1794). Ditinjau dari sudut pandangan masyarakat industri di Barat, orang dapat membuat daftar ciri-ciri satu masyarakat yang modern, tetapi tidaklah mutlak diperlukan bagi modernisasi. Proses modernisasi tidaklah seragam atau universal, oleh karena dobrakan ekonomi dan politik yang terjadi di Inggris dan Perancis pada akhir abad kedelapan belas telah menempatkan setiap Negara lainya di dunia pada kedudukan yang relatif terbelakang. Dalam perspektif ini, perubahan berlangsung lambat, berangsur-angsur dan terus-menerus serta merupakan sesuatu yang perlu perencanaan dan pemikiran bagi masyarakat yang sedang berubah.

Setiap struktur sosial mempunyai corak diferensiasi dalam (internal differentiation) dan suasana luar (external setting), perubahan dalam satu sektor tidak dapat terjadi tanpa menimbulkan reperkusi di sektor lainnya, dan ini mempunyai relevansi yang khusus dalam studi tentang modernisasi. Struktur social adalah suatu tatanan hierarki dari hubungan-hubungan social dalam masyarakat yang menempatkan pihak-pihak tertentu (individu, keluarga, kelompok, kelas) di dalam posisi social tertentu bedasarkan suatu system nilai dan norma yang berlaku pada suatu masyarakat pada waktu tertentu (Salim, 2002). Struktur social pada dasarnya tidak sekedar perubahan struktur, melainkan terjadi perubahan kemasyarakatan (social change). Dalam struktur sosial dikenal status dan peran (Sunarto,2004).

Perubahan yang terjadi mencakup perubahan struktur ekonomi, perubahan struktur sosial, perubahan struktur ideologi, perubahan struktur kultural/ struktur ideologi yang merupakan refleksi dari dua struktur sebelumnya yang berjalan lambat.Karena bangunan ideologi selalu berada di atas, tergantung pada dinamika yang bersifat struktural yang digerakkan oleh unsur ekonomi yang bersifat materialistis. Setiap stuktur sosial memiliki ciri-ciri kekal yang bisa membantu atau menghambat modernisasi masyarakatnya.

Dengan memperhatikan hal tersebut perlu ditelaah lebih lanjut mengenai masalah modernisasi. Sejauh manakah peran komunikasi dalam modernisasi ?

PENGERTIAN MODERNISASI

Menurut Weiner dalam Sayogyo (1985) mengatakan bahwa para ahli eko-nomi memandang modernisasi terutama dalam pengertian “penerapan tehno-logi” oleh manusia untuk menguasai sumber-sumber alam demi mencip-takan peningkatan nyata dalam pertumbuhan hasil penduduk perkapita. Para ahli sosiologi dan antropologi sosial terutama berurusan dengan “proses diffe-rensiasi” yang menandai semua masyarakat modern. Dalam hal ini mereka mengamati bermacam-macam differensiasi yang terjadi di tengah-tengah pel-bagai tatanan/struktur masyarakat, begitu pekerjaan baru muncul, begitu lem-baga pendidikan yang rumit dan baru berkembang serta berbagai jenis komu-nitas baru tampil. Kalangan sarjana politik membahas serangkaian hal-hal yang menghambat dalam modernisasi tetapi memusatkan perhatian terutama pada masalah “pembinaan negara dan pemerintahan“ begitu modernisasi berlang-sung.

Menurut Smelser dalam Suwarsono (2006) mengatakan bahwa Modernisasi selalu melibatkan differensiasi struktural. Ini terjadi karena dengan proses mo-dernisasi, ketidakteraturan struktur masyarakat yang menjalankan satu fungsi sekaligus akan dibagi dalam substruktur untuk menjalankan satu fungsi yang lebih khusus. Setelah adanya differensiasi struktural, pelaksanaan fungsi akan dapat dijalankan secara lebih efisien.

Menurut Tjondronegoro dalam Sayogyo (1985) mengelompokkan tiga pengertian modernisasi yaitu a). Modernisasi diartikan sebagai westernisasi b). Pembangunan disamakan dengan modernisasi c). Pembangunan adalah peru-bahan susunan dan pola masyarakat.

Menurut Coleman dalam Suwarsono (2006) mengatakan bahwa Modernisasi harus dilihat sebagai pembangunan politik yang berkeadilan.

Menurut Koentjaraningrat (2002) mengatakan bahwa Modernisasi adalah usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia sekarang. Untuk orang Indonesia hal ini berarti merubah berbagai sifat dalam mentalitasnya yang tak cocok dengan kehidupan zaman sekarang.

Menurut Rostow dalam Suwarsono (2006) mengatakan bahwa Modernisasi menyangkut pertumbuhan ekonomi, yaitu mulai dari tahap masyarakat tradisional dan berakhir pada tahap masyarakat dengan konsumsi masa tinggi.

Menurut H.Lauer, Robert (1993) Modernisasi bagi negara terbelakang ini lebih bertujuan untuk mengejar pemenuhan kebutuhan pokok dan kemer-dekaan ketimbang Amerikanisasi atau Westernisasi, modernisasi merupakan proses bertahap, yang jelas baik modernisasi maupun industrialisasi menyang-kut unsur penting pertumbuhan ekonomi.

MODERNISASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Menurut Jahi, Amri (1988) menyebutkan bahwa teori pembangunan yang sejak akhir dasawarsa 1940 dianggap dominan ialah teori modernisasi. Teori ini menyatakan bahwa pembangunan terdiri atas beberapa tahap yang berurutan, yang satu tahap mengarah kepada tahap berikutnya yang lebih tinggi. Evolusi perkembangan ekonomi dilihat sebagai sebuah pesawat udara yang akan terbang. Dalam sebuah bukunya yang terkenal, Rostow (1960) menguraikan bahwa pada suatu tahap yang lebih lanjut, pembangunan akan mengikuti suatu proses yang disebutnya sebagai tinggal landas (take-off). Dalam hubungan ini untuk mencapai tahap industrialisasi seperti yang ada di Barat, sebuah Negara yang sedang berkembang harus melalui beberapa tahap pembangunan dalam suatu kurun waktu tertentu.

Menurut H.Lauer, Robert (1993) mengatakan bahwa kita akan mengacu pada industrialisasi sebagai pertumbuhan ekonomi yang terjadi melalui penerapan tehnologi terhadap perkembangan industri, dan mengacu pada modernisasi sebagai proses umum yang menyangkut pertumbuhan ekonomi bersama-sama dengan perkembangan sosial dan kebudayaan.

Sejumlah ahli telah berupaya menetapkan tingkat-tingkat perkembangan ekonomi dan industri. Rostow (1960) dalam Arsyad (2004) menetapkan 5 tingkat pertumbuhan ekonomi. Masing-masing adalah :

    Masyarakat Tradisional
    Tahap Prasyarat tinggal landas
    Tahap Tinggal landas
    Tahap menuju kedewasaan; dan
    Tahap konsumsi tinggi

Sebagai garis umum perkembangan ekonomi yang berkaitan erat dengan industrialisasi, tingkat-tingkat pertumbuhan yang dikemukakan Rostow dapat diterapkan pada sejumlah Negara, meskipun tidak seluruhnya. Industrialisasi bukanlah pola perubahan ekonomi dan teknologi semata, tetapi juga meru-pakan pola perubahan sosial dan kultural.

MODERNISASI DAN PERUBAHAN SOSIAL
Menurut Bendix dalam Lauer (1993) bahwa Modernisasi sebagai seluruh perubahan sosial dan politik yang menyertai industrialisasi di kebanyakan Negara yang menganut peradaban Barat.

Lerner (1958) dalam Jahi (1988) menyatakan bahwa cara masyarakat tradisional di Asia Barat menerima cara hidup Barat secara bertahap. Ia melihat empati atau kemampuan seseorang untuk mengidentifikasikan dirinya dengan dengan situasi orang lain dan tingkat penggunaan media massa yang tinggi sebagai karakteristik individu yang modern. Di samping itu Lerner juga me-nunjukan adanya “peningkatan harapan” sebagai akibat dari pengaruh tekanan media massa pada sifat-sifat kemoderenan.

Modernisasi mengacu pada perkembangan sosial dan kebudayaan yang terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi itu bertahap, meliputi periode yang sangat panjang. Inovasi tidak hanya membu-tuhkan teknologi ekonomi tetapi juga teknologi sosial. Proses perubahan ini ber-kaitan erat dengan individu kreatif.

Menurut Hagen dalam Lauer (1993) bahwa pertumbuhan ekonomi takkan terjadi tanpa perkembangan kreativitas dalam kepribadian : “… perubahan sosial takkan terjadi tanpa perubahan dalm kepribadian. Selanjutnya dikata-kan bahwa kepribadian tersebut dilihat dari sudut kebutuhan, nilai-nilai, dan unsur-unsur kognitif pandangan duniawi, bersama-sama dengan tingkat in-telejensia dan energi. Kebutuhan yang menjadi satu dimensi penting dari kepribadian dapat digolongkan menurut apakah kebutuhan itu digerakkan, agresif, pasif, atau dipelihara. Kebutuhan yang digerakkan termasuk kebutuhan untuk berprestasi, untuk mencapai otonomi dan untuk memelihara tatanan. Sehingga sangatlah berperanan kreativitas kepribadian individu dan berbagai faktor psikologis yang terlihat dalam perubahan sosial untuk mendukung per-tumbuhan ekonomi.

Dalam nada yang serupa McClelland (1961) dalam Jahi (1988) menunjukkan bahwa individu-individu modern memiliki suatu “orientasi kemajuan” yang dinyatakan dalam skor “ach”. Selanjutnya McClelland dalam Lauer (1993) mengatakan bahwa semangat kewiraswastaanlah yang mendorong perkem-bangan ekonomi. Tesis dasar McClelland adalah bahwa masyarakat yang tinggi tingkat kebutuhan untuk berprestasinya, umumnya akan menghasilkan wira-swastawan yang lebih bersemangat dan selanjutnya menghasilkan perkem-bangan ekonomi yang lebih cepat. Kebutuhan untuk berprestasi dilambangkan dengan “n achievement”.

Jika motivasi untuk berprestasi tinggi dapat menerangkan pertumbuhan ekonomi, maka motivasi untuk berprestasi yang rendah dapat menerangkan kelambatan pertumbuhan ekonomi. Contohnya : mengapa Brazilia tidak mam-pu mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi, yang diperlukan untuk me-menuhi kebutuhan penduduknya yang terus membengkak itu? padahal sumber alamnya, jelas cukup tersedia. Menurut Rosen adalah karena tingkat motivasi untuk berprestasi dan sejenis nilai-nilai prestasi yang dimiliki orang Brazilia tak memadai untuk melaksanakan tugas. Jika dibandingkan dengan orang Amerika, orang Brazilia memperlihatkan tingkat motivasi berprestasi yang lebih rendah, nilai mengenai aktivismenya lebih rendah, kurang berorientasi masa depan dan penilaian atas sesuatu seperti pekerjaan dan mobilitas pisik pun lebih rendah.

Menurut Inkeles dan Smith dalam Lauer (1993) menyatakan bahwa peru-bahan sikap dan nilai-nilai adalah salah satu syarat terpenting untuk ber-fungsinya secara substansial dan efektif institusi modern bangsa. Kualitas k-pribadian seperti itu mungkin berasal dari partisipasi mereka dalam cara produksi modern seperti di pabrik, sehingga pekerja pabrik bekerja secara efektif dan efisien. Ciri-ciri modern berhubungan erat dengan pendidikan, keterbukaan terhadap media massa dan pengalaman kerja.

Peaslee dalam Lauer (1993) menyatakan bahwa perubahan sosial diperlukan untuk tercapainya modernisasi. Selanjutnya dikemukakan bahwa tiga hubung-an utama antara pendidikan dasar dan pertumbuhan ekonomi. Pertama, pendi-dikan dasar dan pertumbuhan ekonomi. Pertama, pendidikan membantu meng-hancurkan cara pandang tradisional terhadap produksi dan distribusi barang-barang. Pendidikan memberikan pandangan yang lebih luas, termasuk penge-tahuan tentang pendekatan rasional dan pengetahuan tentang ekonomi. Kedua pendidikan menyediakan masyarakat segolongan orang yang akan menunjukan cara-cara menyelenggarakan perekonomian, segolongan orang yang tidak lagi berkomunikasi atas dasar pola tradisional dari mulut ke mulut. Ketiga, syarat keuangan sistem pendidikan itu sendiri merangsang pertumbuhan ekonomi.

Dari pendapat beberapa paka tersebut menunjukkan bahwa modernisasi di-dukung oleh perubahan sosial masyarakat dalam arti kreativitas kepribadian setiap orang disertai perubahan sikap, perilaku dan nilai-nilai untuk lebih maju. Di samping itu mayarakat seharusnya mempunyai kebutuhan berprestasi yang tinggi untuk tercapainya modernisasi. Pendidikan dasar, tingkat pengetahuan masyarakat sangat berperanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

SYARAT MODERNISASI
Syarat apa yang diperlukan untuk terjadinya modernisasi ? berdasarkan daf-tar ciri-ciri kemodernan yang dikemukakan diatas, yang mengacu padas faktor ekonomi, sosial dan psikologi-sosial dapat dikemukakan sebagai berikut :

Menurut Lauer (1993) menyebutkan : beberapa ahli berpendapat bahwa nilai-nilai, perilaku dan sikap, motivasi harus dirubah dahulu untuk dapat ber-langsungnya modernisasi. Modernisasi mencakup industrialisasi, sehingga per-tumbuhan ekonomi yang berkelanjutan menurut Rostow, memerlukan tiga syarat : Pembangunan modal sosial tambahan, terutama di bidang transportasi. Pembangunan modal sosial tambahan ini selain penting untuk menciptakan pasar dalam negeri dan untuk memungkinkan pengolahan sumber alam secara produktif, juga untuk memungkinkan terselenggaranya suatu pemerintahan nasional yang efektif dan berwibawa.

Revolusi tehnologi di bidang pertanian.
Perluasan impor yang dibiayai dengan meningkatkan efisiensi produksi dan pemasaran sumber alam yang berlebih, bila mungkin impor modal.Faktor lain, sama pentingnya meskipun para ahli agak lebih sependapat mengenai jenis-jenis faktor non ekonomi yang diperlukan bagi pembangunan. Rostow menge-mukakan peningkatan “cakrawala harapan” di kalangan massa rakyat dan faktor politik sebagai syarat non-ekonomi yang penting bagi modernisasi. Jadi ia telah menyinggung dua kategori factor non ekonomi yakni faktor struktural dan psikologi-sosial.

KOMITMEN TERHADAP MODERNISASI
Menurut Lauer (1993) ada empat alasan mengapa komitmen terhadap modernisasi sukar dicapai :

Rakyat dituntut meninggalkan cara-cara lama, terutama pola hubungan lama, mereka harus meninggalkan hubungan kekeluargaan tradisional dan tanggung jawab kekeluargaan tradisional. Setiap perubahan yang dapat meng-ancam hubungan antar pribadi lama, mungkin akan di tentang.

Karena rakyat biasanya dituntut mengorbankan kepentingan pribadi demi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi bangsa. Dengan kata lain, komitmen mereka mungkin lebih tertuju bagi kepentingan diri sendiri daripada memi-kirkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Menurut istilah ekonomi kebu-tuhan terhadap barang dan jasa berlawanan dengan kebutuhan terhadap aku-mulasi modal dan pertumbuhan.

Rakyat di tuntut mengerjakan tugas-tugas yang menimbulkan ketegangan psikis. Industrialisasi memerlukan individu mengerjakan pekerjaan yang me-nuntut pengorbanan psikis sangat besar.

Karena pemimpin yang menuntut rakyatnya berkorban itu kurang menun-jukkan tanda-tanda berkorban. Sementara menuntut rakyat hidup prihatin, mereka hidup mewah. Bila edit modern ingin segera mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi, apalagi rakyat kecil yang tak sabar menunggu hingga ke masa datang yang tak dapat mereka tentukan.

Telah dikemukakan, berbagai nilai dan sikap penting untuk mencapai modernisasi, tetapi sebagian besar nilai dan sikap ini berkaitan dengan masalah komitmen. Penerimaan ideology nasional, keinginan untuk menjadi lebih mobil, menyetujui norma-norma rasional sekuler pada hakekatnya berkaitan dengan komitmen terhadap modernisasi.

PERANAN KOMUNIKASI DALAM MODERNISASI
Menurut McClelland dalam Nasution, Zulkarimen (1992) analisa yang paling orisinal dan provokatif adalah komentarnya yang berhubungan langsung dengan masalah komunikasi, yakni perihal pentingnya opini pablik bagi pemba-ngunan.Dalam pembangunan ekonomi, kekuatan yang merangkum masyarakat adalah bergerak dari tradisi yang melembaga, ke opini publik yang dapat mengakomodir perubahan, dan hubungan interpersonal yang spesifik serta fungsional.

Inkeles dan Smith dalam Jahi, Amri (1988) berpendapat bahwa komunikasi massa, pendidikan massa, dan industrialisasi merupakan beberapa cara sosialisasi yang paling penting.Menurut lerner (1958), Pye (1963), Schramm (1964) dalam Jahi, Amri (1988) mengatakan bahwa komunikasi pembangunan juga menggunakan “tetesan ke bawah”. Menurut model ini, informasi dan pengaruh mengalir dalam satu arah, dari pengirim ke penerima. Sifat ini menyebabkan pendekatan ini disebut juga sebagai pendekatan dari “atas ke bawah” , “pipa” , atau “pusat dan daerah” (Fett dan Schneider,1973; Galtung , 1971; Thiesenhusen, 1978) dalam Jahi, Amri (1988).

Dari berbagai ulasan yang dikemukakan, terdapat beberapa peran komu-nikasi dalam modernisasi, yakni :

Komunikasi persuasif akan mempengaruhi perubahan nilai-nilai, sikap men-tal, perilaku, kepribadian yang kreatif, motifasi untuk berprestasi yang sangat mendukung terwujudnya modernisasi. Komunikasi persuasif akan mempe-ngaruhi nilai budaya untuk berorientasi ke masa depan, sehingga setiap individu akan mempunyai motivasi untuk berkarya, berinovasi, bersikap hemat untuk menabung, disiplin, yang sangat berperan dalam modernisasi. Komu-nikasi persuasif akan mempengaruhi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proyek pembangunan maupun di luar proyek pembangunan. Misalnya : Proyek penghijauan, perbaikan jalan desa, perbaikan saluran air, dsb.

Komunikasi Interaktif dalam bidang pendidikan formal dan non formal sangat berperan dalam meningkatkan sumber daya manusia untuk dapat ber-karya, disiplin, bertanggung-jawab, berprestasi dan berkualitas merupakan factor yang sangat penting dalam modernisasi. Demikian pula komunikasi in-teraktif dalam pengasuhan di rumah tangga sangat menentukan keberhasilan generasi penerus dalam melaksanakan program-program pembangunan mi-salnya : melalui bacaan ceritera anak-anak yang berorientasi “N Ach”, yang biasanya dibaca pada waktu di luar jam sekolah. Komunikasi Interaktif yang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan masyarakat perdesaan sehingga pro-gram-program pembangunan akan bermanfaat pula bagi masyarakat per-desaan, tidak hanya bisa dinikmati oleh kalangan pembuat kebijakan.

Komunikasi melalui media massa sangat berperan dalam meningkatkan Ilmu pengetahuan dan tehnologi terhadap masyarakat untuk terwujudnya moder-nisasi. Komunikasi persuasif akan mempengaruhi para petani produsen untuk meningkatkan usaha taninya kearah agribisnis dan agrobisnis sehingga subtitusi impor meningkat, hal tersebut harus disertai pula kebijakan yang menguntungkan bagi petani sebagai perangsang untuk berproduksi, dengan demikian sangat mendukung modernisasi.

Peranan komunikasi tersebut di harapkan akan menimbulkan perubahan yang menguntungkan di berbagai bidang kehidupan : demografi, system stra-tifikasi, , pendidikan, system keluarga, nilai, sikap serta kepriba-dian yang sangat penting bagi proses modernisasi di Indonesia.

KIRITIK TERHADAP TEORI MODERNISASI
Kritik terhadap teori modernisasi menurut Jahi, Amri (1988) adalah bahwa asumsi-asumsi yang dianut oleh model “tetesan ke bawah” ialah sebagai berikut : (1) pembuatan keputusan terjadi pada tingkat individu, (2) kegagalan terjadi karena kegagalan individu, (3) keahlian identik dengan pendidikan formal dan kemampuan melakukan riset ilmiah, (4) komunikasi satu arah, (5) bias pro-inovasi, dan (6) pendefinisian pembangunan oleh badan-badan dalam system sumber. Penelitian tentang proyek-proyek pembangunan yang dilakukan belum lama ini menunjukkan bahwa : (1) studi tentang kondisi sosial dan structural dimana individu-individu bekerja perlu dilakukan, (2) nilai pengetahuan teknis asli setempat harus dihargai, (3) peranan partisipasi dan umpan balik sangat berguna untuk mencegah hasil yang tidak diharapkan dan negatif, dan (4) redefinisi pembangunan seharusnya dilakukan oleh khalayak yang dituju dalam system pemakai.

Nasution, Zulkarimein (1992) bahwa teori yang dikemukakan oleh Rostow tentang pertumbuhan ekonomi ini dinilai (1) bersifat etnosentrik; yaitu membantu menjadikan pengalaman negara Barat sebagai model yang harus disamai oleh negara-negara yang sedang berkembang dengan mengabaikan keunikan dalam hal latar-belakang historis, kultural, dan lain-lain yang terdapat di negara-negara sedang berkembang. (2) telah menempatkan suatu pandangan sejarah yang unilinear yang berkaitan dengan butir pertama di atas. Para kritisi berpendapat , bukan hanya satu melainkan banyak jalan menuju ke pemba-ngunan, dan jalan yang telah ditempuh oleh negara-negara industrial bukan satu-satunya jalan. (3) pendekatan ini berkonsentrasi hanya pada faktor-faktor endogen dalam pembangunan. Padahal menurut para kritisi, kita hidup dalam suatu dunia yang amat interdependen. Dengan demikian masalah yang di-hadapi oleh negara-negara di Dunia ketiga hanya dapat difahami sepenuhnya dengan melihat baik faktor-faktor endogen maupun eksogen. Bahkan sebagian besar dari faktor endogen itu, dalam pendapat para kritisi, merupakan kon-sekuensi dari faktor-faktor eksogen tadi. (4) pendekatan ini memberi tekanan yang amat besar pada individual dan menimpakan kesalahan pada pundak mereka itu tanpa secukupnya turut mempertimbangkan factor struktur sosial dimana si individu tersebut bergabung. Sebagai ilustrasi dikemukakan bahwa pendukung pendekatan ini seringkali menuduh bahwa para petani di negara berkembang merupakan orang-orang yang terlalu tradisional, konvensional, percaya pada hal-hal yang tidak rasional, fatalistik, dan tidak memiliki ke-trampilan kewiraswastaan serta tidak termotivasi oleh etos bekerja keras. Pada kritisi berpendapat tuduhan itu bukan saja salah tempat, tapi juga sama sekali telah mengabaikan kenyataan struktur sosial yang sebenarnya akan menje-laskan dengan lebih meyakinkan penyebab dari hal-hal yang dituduhkan tadi. (5) pendekatan ini telah menguntungkan lapisan yang lebih kaya dalam ma-syarakat, dengan mengorbankan kaum miskin. Pendekatan tersebut hanya berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi tetapi tidak dipikirkan masalah pemerataan pembagunan. Pendekatan ini tampaknya membela strategi dari atas-ke-bawah, dan akibatnya sebagian besar masyarakat tidak dilibatkan da-lam proses pembuatan keputusan.Demikian kritik terhadap teori modernisasi yang dikemukakan oleh beberapa pakar.

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Lincolin. 2004. Ekonomi Pembangunan. Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN. Yogyakarta.

Jahi, Amri. 1988. Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-Negara Dunia Ketiga. PT Gramedia, Jakarta.

Koentjaranigrat.2002 Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Lauer, Robert H, 1993. Perspektif tentang Perubahan Sosial. Rineka Cipta, Jakarta.

Nasution, Zulkarimein. 1992. Komunikasi Pembangunan : Pengenalan Teori dan Penerapannya. CV Rajawali, Jakarta.

Sayogyo, Pudjiwati. 1985. Sosiologi Pembangunan. FPS IKIP bekerjasama dengan BKKBN, Jakarta.

Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial. PT.Tiara Wacana. Yogyakarta.

Suwarsono dan Alvin Y. So. 2006. Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia. LP3ES, Jakarta.

Sunarto, Kamanto.2004. Pengantar Sosiologi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

Weiner,Myron. 1986. Modernisasi dinamika Pertumbuhan. Gadjah Mada Uni-versity Press, Yogyakarta.

Top